Susu Cap Beruang Ags Arya Dipayana

…rumah kecil bukalah pintu pagarmu
kan kuajak gadisku meninggalkan kamarnya
memetik kembang-kembang rumput liar, di pematang di sisi kali…

Mendengar syair ini tadi pagi di perjalanan menuju kerja, mata saya berkaca-kaca. Sudah dua minggu kangen sekali saya mendengarkan lagu-lagu sederhana aliran country atau folk. Untuk yang berbahasa Indonesia, saya memilih lagu-lagu Franky & Jane, yang dulu kerap saya nyanyikan sambil memperlancar tekanan chord-chord gitar. Kekangenan itu datang dimulai persis ketika obrolan saya dengan seorang penyair, pencipta lagu dan sutradara teater yang rendah hati, AGS Arya Dipayana, sampai pada persoalan bahwa ternyata: sederhana itu sangat kaya, kecil itu sangat besar, diam itu sangat menggugah, dan hening itu sangat riuh…

Sebelumnya saya dengan naif menawarkan pada mas Aji (panggilan buat AGS A Dipayana) untuk menilai sebuah puisi terbaru saya, berjudul: Hanya Sisa Teh dan Kopi. Narsisme saya berpendapat puisi ini bagus dan dalam, karena sampai saat ini itulah puisi terpanjang saya, dan mengandung 3 buah pesan. Tapi setelah selesai mendengarkan rentetan kata-kata saya itu dari rekaman PDA, yang berdurasi 270,2 detik, mas Aji hanya berujar pendek: WOW, PANJANG!

Sejenak kemudian, Sihar Ramses Simatupang, redaktur sastra budaya di Sinar Harapan, penyair dan penulis novel ‘Lorca’ yang ikut mendengarkan, mengomentari bahwa puisi itu harus hemat kata-kata. Yang penting mewakili total sebuah makna. Dia kemudian mencatatkan untuk saya puisi terpendeknya ketika dulu sewaktu mahasiswa hampir kelaparan, karena benar-benar tidak makan selama 3 hari. Dan lucunya, katanya, setelah selesai mencoretkan puisi doa itu, bu kosnya datang memberi nasi. Ini puisinya:

Tuhan, berikan aku sebungkus
nasi, untuk kita makan berdua

Dengan berapi-api saya juga menyatakan pada mereka, bahwa sebenarnya saya sangat jatuh hati pada puisi pendek, saya pernah belajar membuat haiku, tetapi gagal. Lalu saya bacakan puisi berjudul ‘bunga kecil’, yang maksudnya haiku tapi gagal itu:

..bunga kecil mengapung di sungai
mengalir terus ke laut
kerna tak biarkan dirinya, terjebak di batu-batu

Saya beberkan makna puisi itu sebagai doa saya untuk anak-anak, agar tak terjebak pada berhenti yang menggiurkan. Selamat, tapi sebetulnya lumpuh dari perjalanan mencari. Bla-bla-bla lainnya. Dan kemudian saya memaksa mas Aji untuk membacakan satu dua gubahannya. Meski belum pernah sekalipun membaca sajaknya, saya yakin, orang yang pernah menciptakan lagu sebagus ‘Dengan Menyebut Nama Allah’ yang dipopulerkan istri Emha Ainun Najib, Novia Kolopaking; memberi irama pada beberapa sajak Sapardi Djoko Damono seperti ‘Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana’ yang dijadikan soundtrack film Garin ‘Cinta Dalam Sepotong Roti’; pernah menyumbang lagu shalawat di album terakhir Hadad Alwi; pastilah orang yang jenius dalam berpuisi. Mulanya dia menolak. Namun saya terus memaksa, hingga ia mau.

Kemudian saya tercenung. Seperti menikmati sebuah tenung. Seperti gembalaan di sebuah persekutuan doa. Dengan kekhidmatan seorang rahib, dengan mata menerawang jauh, diapun mengucapkan:

Berjalan di hutan bambu
Kudengar rintih tertahan
Tidak, itu bukan suara hatiku
Hanya gesekan daun-daun bambu

Puisi yang sangat indah. Tapi saya tak lepas membantahnya bahwa itu belum haiku. Masih kepanjangan. Dengan keingintahuan membludak, saya menagih lainnya. Lalu dia membacakan puisi ‘Napoleon’ yang sering rekan-rekannya anggap sebagai puisi dari penyair Prancis, karena pertamanya dibikin dalam bahasa Prancis. Mas Aji ternyata adalah alumni sastra Prancis UI:

etpuis Elba devient proche
je me reste debout entre les morceaux du palais
que j’ai construit moi-meme
qui les pilliers sont encore resolo
mais ne me prometent rien du tout

dan Elba semakin dekat
aku berdiri di antara reruntuhan istana
yang kubangun sendiri
yang tiangtiangnya masih tegak
tapi tak lagi menjanjikan apa-apa

Pikiran saya terjerembab masuk, mungkin saja kesedihan berlarut saya selama ini adalah sebuah kesedihan Napoleon di reruntuhan istananya. Sebuah kehilangan di kelimpahan. Sebuah spasi, sebuah jeda, sebuah halte yang tak saya perhatikan lagi. Sebuah pengejaran makna untuk menjadi, yang kemudian berubah sebagai kutukan: keinginan menjadi-jadi atau aku yang jadi-jadian. Orang tak orisinal…

Berselang kemudian mas Aji bercerita tentang puisinya berjudul ‘Tamu’, yang dia ciptakan ketika dia ditantang membacakan puisi terpendeknya oleh perempuan sutradara film dari Malaysia. Diapun mengatakan dengan suara bergetar:

Selesai membangun rumah
Kuketuk pintu sendiri

Saya dan Sihar pun bengong, 2 baris kalimat = 6 kata = 16 suku kata = 45 huruf termasuk spasinya, tetapi sangat indah dan sangat misterius. Mistik. Dan sebagaimana keindahan lain ia menyenangkan saya. Meski kemudian saya pedih tiba-tiba. Seharian di Cianjur itu, saya menggumamkan berkali-kali sajak ini, dan membaginya ke beberapa teman melalui sms. Hanya dengan sajak pendek itu, saya mampu dibuat ceria beberapa hari kemudian, berbeda dengan hari akhir-akhir ini yang senantiasa muram. Saya ingin kembali mencipta, bukan mempunyai hal-hal. Di sisi lain bagiku, 45 huruf itu mengalahkan haikunya Basho berjudul Najuna yang sangat masyhur. Di bawah saya kutip versi Inggrisnya, dan terjemah Indonesianya:

When I look carefully
I see the nazuna blooming
by the hedge!

Ketika kuamati dengan seksama
Kulihat sekuntum bunga najuna mekar
di luar pagar

Sebenarnya perjalanan ke Cianjur ini adalah pertemuan kelima saya dengan mas Aji. Saya melibatkannya, untuk membantu merealisasikan gagasan teater rakyat, sebuah teater penyadaran hukum perempuan. Tapi inilah pertemuan yang paling belajar saya darinya. Kemudian saya melihat bagaimana dengan kesederhanaannya dia mampu memberi ruang nyaman bagi ibu-ibu yang tadinya enggan dilibatkan sebagai pemain teater. Dia hanya berujar: “Ibu, ini bukan ‘belajar’, melainkan bermain! Kita akan bersenang-senang!” Dan satu persatu, bahkan mungkin akan kelebihan, para ibu desa itu menyatakan akan bergabung untuk berlatih teater.

Bagi saya itulah: Quantum! Segala potensi ada dalam satu sel. Segala ruah dalam seucap tuah. Keserentakan dalam sebuah jepreten: Blitz! Orang awam menyebutnya kharisma. Mas Aji yang orang lihat berpenampilan sederhana, selalu bersandal jepit, mengepit tas sedang yang kumal yang ketika saya intip isinya sebungkusan rokok dan seplastik kopi tubruk, menyadarkan saya tentang: cara melarikan diri dari serius yang nggak perlu –santailah tapi bermakna.

Lalu saya ingat tentang kenaifan saya yang pertama. Di sebuah malam di Puncak, setelah seharian menetapkan juara penulisan skenario teater hukum perempuan, mas Aji mengajak saya keluar mencari minum. Di mobil, sebelum saya sadar waktu itu bahwa teman perjalanan saya adalah orang yang ‘bermakna’, saya menawarkan padanya dan juga Sihar untuk mendengarkan lagu yang sedang saya sukai di album ‘Gadis Kecil’, musikalisasi atas puisi Sapardi ‘Dalam Diriku’:

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya;
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya

Disambut dengan kerjap-kerjap lampu senter di setiap sudut oleh para makelar penginapan, mas Aji pun membagi rahasianya: bahwa beberapa komposisi di album Gadis Kecil adalah gubahannya, termasuk lagu favorit saya itu. WOW! Kok bisa saya tak perhatian pada teks lirik itu, yang kemudian memang menampakkan nama mas Aji sebagai komposer di beberapa lagu. Namun untung kenaifan saya ini adalah kebodohan yang sumringah, yang rindu sesuatu: mungkin sebuah kerinduan akan penciptaan, atau hanya sekedar bertemu pencipta. Entah…

Semua kafe dan warung minum ternyata tutup di larut malam itu. Kita berhenti di sebuah kios dorong setelah menikmati bubur kacang Madura –sebuah keanehan lain, selama ini saya mengenal Madura sebagai label bagi sate atau soto, bubur kacang biasanya orang Sunda. Dan satu keajaiban lain terjadi: di malam yang dingin yang menurut saya pantas bagi penyair menghangatkan diri minimal dengan sebotol bir, mas Aji memesan minuman yang pantas bagi bocah masuk angin: sekaleng susu cap beruang. Bear Brand!***

Peri Umar Farouk, Jakarta, 16 Des 2006

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.