Setiti

Setiti bukan lagi kehidupan. Ia hanyalah sesuatu yang bernyawa. Kini Setiti adalah…

“Sundal! Dasar sundal tengik!” mak Giwuk pagi pagi sudah uring uringan. Dalam muka tembemnya yang subur, mulutnya yang berbibir tebal itu bergerak menyemprotkan kata kata penuh kesal. “Apa sih maumu itu? Orang antri mau kelon kok kamu malah diam saja. Apa kamu lagi kesurupan? Hah!”

Setiti yang telanjang diam saja.

“Titi! Ayo sana mandi. Pakai baju yang bersih. Lalu keluar ke ruang tamu!” mak Giwuk tetap ngotot. Di hari Minggu itu, dimana ia sedang sibuk sibuknya mempersiapkan makan pagi bagi ‘anak anak asuhnya’, ada beberapa tamu yang datang.

“Apa maumu, hah! Pagi pagi manja! Orang antri mau kelon kok ini malah diam saja. Apa kamu kesurupan? Hah! Apa kamu kesurupan?” ulang mak Giwuk dengan perhatian yang tak terarah.

Setiti, dalam simpuhan duduknya malah tersenyum kecil. Lalu seperti tidak hendak menanggapi ocehan mak Giwuk, induk semangnya, ia pun bernyanyi nyanyi lirih. Entah melagukan apa. Mak Giwuk mengokohkan tolak pinggangnya di depan Setiti. Menggeleng gelengkan kepala berulang ulang seolah makhluk yang berada di depannya itu adalah sesuatu yang aneh, yang sulit dimengerti. “Titi! Coba pandang emakmu ini. Coba pandang!” Setiti mendongakkan kepalanya melihat ke wajah mak Giwuk. Sebentar kemudian menunduk kembali. Bernyanyi nyanyi.

“Ala Gustiii! Sampeyan iki ngopo, nduk? Ngopo?”

Yang diherani tetap saja lirih bernyanyi nyanyi. Kemudian mencoret coretkan tangan di lantai di mana ia duduk, lantai yang sudah pasti berdebu. Hasilnya: beberapa buah, entah huruf entah gambar, yang tak berarti. Atau mungkin tepatnya sesuatu dengan arti arti yang khusus, yang hanya dimengerti oleh Setiti.

Mak Giwuk tidak berusaha menanggapi lebih lanjut kediaman Setiti. Ia keluar dari kamar Setiti, namun tanpa melepaskan ocehan ocehannya. Dalam benaknya ia yakin bahwa sebentar kemudian Setiti akan mandi, berpakaian dan ikut ke ruang depan menemani tamu yang menghendakinya.

+++

Setiti bukan lagi manusia. Ia hanyalah tubuh yang telanjang. Setiti adalah…

“Gadis manis,” ucap seorang lelaki yang baru dikenalnya jam tujuh tadi, “Marilah mendekat ke sini!”

Setiti memperkirakan bahwa saat itu malam samasekali belum menjadi gelap. Paling paling baru jam setengah delapan lebih sedikit. Jadi untuk bermanja manja kepada lelaki ini bukanlah hal yang berlebihan. Dalam ketelanjangannya, ia mencoba untuk tetap berdiri. Memamerkan seluruh lekuk liku daging yang mengurungnya menjadi seorang wanita. Rasa penasarannya membuat ia, sekali sekali, ingin melihat air liur lelaki mengalir deras dari mulutnya karena tergiur kemontokannya. Ia sadar, ia mempunyai tubuh yang dapat membuat gila setiap lelaki. Apalagi seperti saat ini, dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Mungkin akan mati mendadaklah apabila lelaki, seperti lelaki ini, secara tiba tiba ditinggalkannya.

“Ayolah gadis manis. Sini! Cepatlah naik ke tempat tidur! Nanti Abang beri mimpi yang belum pernah kau mimpikan…” Rayuan lelaki itu persis seperti sajak sajak penyair murahan.

Setiti, dalam berdirinya yang binal malah tersenyum kecil. Didihan jantung sang penyair itu dibuatnya makin menggelegak. Lalu tanpa belas kasih disandarkanlah punggungnya ke tembok, matanya memandang langit langit kamar. Mengecap rasa syukur atas kemenangan yang paling ultim dari setiap awal percumbuannya.

Lelaki penyair itupun berubah seketika menjadi lelaki tanpa rasa sabar. Ia memburu. Memburu nafsunya sendiri. Ia dekati Setiti. Lalu seperti sebuah karung besar ia tutupkan seluruh dirinya atas diri Setiti. Setiti, manusia lain selain dirinya, lenyap dalam hatinya. Yang tertinggal adalah syahwatnya yang menyala nyala, memberangus, memberangus. Menerbangkan setiap kesadaran yang mencoba muncul. Lihatlah, pada suatu waktu ternyata kesadaran bisa berarti bukan apa apa. Bukan sesuatu yang bisa mencegah atau menghentikan kesalahan dan dosa dosa. Kesadaran hanyalah sobekan sobekan kertas kecil yang terbakar, terbang dengan sisa semangatnya yang paling rapuh, paling redup.

Kini, semuanya tinggallah pertanyaan pertanyaan yang mungkin tak pernah dapat dijawab. Lelaki itu, juga Setiti, siapakah mereka? Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Bergumul? Bergumul dengan siapa? Siapa menggumuli siapa? Bergumul dengan apa? Hanya erangan dan tawa tawa cabul yang terdengar. Nikmat, kesangsian dan menyesal…

Setelah itu seperti malam malam yang telah berlalu, tinggal sebuah transaksi tanpa jiwa. Setiti yang telanjang, dalam baring malasnya di atas kasur dengan seprei awut awutan, menunggu sang pangerannya berpakaian. Pakaian lengkap, tinggal menunggu sisiran dan sekedar merapikan yang dirasa belum pas benar. Kemudian tunggu barang semenit dua menit, lelaki itu merogoh saku belakang celananya. Menyimpan beberapa lembar uang di meja, atau melemparkan uang itu ke atas tubuhnya. Ia pun menanti kata kata pamit: “Setiti, saya pamit dulu, ya!”

Pintu yang tertutup melepaskan bunyi yang di telinga Setiti terdengar selalu saja panjang, keheningan, kenyataan yang sungguh sungguh kosong. Semuanya ternyata adalah keheningan. Awal dan akhir adalah keheningan. Bahkan semuanya, setiap saat, adalah keheningan.

+++

Kembali mak Giwuk mengoceh di kamar Setiti.

“Ti! Titi! Ayo nduk, di luar ada yang menunggu,” katanya dengan tekanan yang makin halus. “Kalau kamu kepingin apa, mbok ngomong whae. Ra’ usah koyok ngene! Ayolah nduk,”

Hal yang mengejutkan secara tiba tiba menyergap perasaan mak Giwuk. Ia, sebagai orang yang sudah memakan usia, tidak dapat sepenuhnya luput menangkap keadaan yang sungguh sungguh serius akan diri Setiti. Tidak biasanya Setiti ngadat seperti ini. Ia yakin manusia ini bukanlah Setitinya. Setiti orangnya gampangan, tak pernah sengaja membuat susah.

“Oalah, Gusti! Kamu bener bener terasuk setan, tho’?” mak Giwuk mendongakkan wajah Setiti dengan mengangkat dagunya. Melihat sebentar ke sinar mata Setiti. Tatapan yang hampa. Lalu punggung tangan yang satunya lagi ditempelkannya di dahi Setiti.

“Oalah, Gusti! Benooo…! Benooo…” teriaknya kemudian. “Golekke pakdhe Bejo, Noo…”

Setiti mengoyang goyangkan kepalanya kanan kiri. Masih terus lirih bernyanyi nyanyi. Tertawa kecil sendiri. Seperti merintih, sendiri. Dan telunjuknya yang sudah coklat oleh debu ditekan tekankannya pada sisi bibirnya sebelah kanan.

“…na…na…na, na…na…na…”

+++

Dulu Setiti, meskipun hanya seorang anak tambal ban dan penjual bensin dua tax, adalah gadis periang. Sekolahnya lumayan lebih tinggi dibanding kawan kawan sebaya dan sepermainannya di kampung kumuh di atas kali Code itu. Sekolah Menengah Pertama pernah diecapnya selama dua tahun lebih. Walau tidak sampai menyelesaikan kelas tiganya, itu cukup lumayan bagi Setiti. Tidak seperti kawan kawannya yang bahkan Sekolah Dasar pun banyak pula yang tidak tamat.

Cita cita masa remajanya sederhana saja, ia hanya ingin menjadi perawat. Alasannya pun sederhana, ia ingin agar setiap harinya bisa berpakaian yang bersih. Putih. Tidak seperti kesehariannya yang kumal. Baju dan rok roknya, walau di lingkungannya jarang sekali pohon pohonan, seperti bergetah getah. Atau lebih mirip lagi coklat coklat seperti kena olie.

Tetapi segalanya kandas menjadi nasib yang lebih sial, ketika suatu saat ayahnya, pak Somon, yang ternyata adalah ayah tirinya, memperkosanya. Ibunya menjelang siang Minggu itu tengah bersiap siap membereskan kios dorong bensinnya untuk dibuka. Dan pak Somon masih ada di rumah, karena memang tiap hari Minggu ia akan berangkat menunggu kios, setelah semuanya dibereskan istrinya.

Keriangan Setiti punah dalam sesaat. Cita cita tinggal menjadi ingatan yang mungkin saja bisa menyiksa. Sayang sungguh sayang, Setiti…

Kemudian, ketika Setiti memberitahu ibunya perihal perbuatan pak Somon terhadap dirinya, yang didapat bukanlah jalan keluar yang bisa memberi penjagaan atau sesuatu yang dapat menghibur dirinya. Yang diterimanya malah kata kata kasar, sumpah serapah, jambak dan usiran ibunya.

“Bajingan! Setan! Asu! Anak binal…, pergiii!” jeritan itu berakhir dengan tangis yang histeris.

Kepala Setiti berdenyut panas. Rambut yang kena jambak ibunya dirasakan lepas bersama kulit kepalanya. Ia tidak sepenuhnya mengerti kemarahan ibunya berawal dan mungkin akan berakhir di mana. Dan seperti tak berjejak di atas bumi Setiti melangkah dengan segala apa adanya ia saat itu. Hanya kesialan, kesedihan, ketakmengertian dan tanpa harapan apa apa yang mengiringinya, menuju ke entah…

Entah itu ternyata berujud sebuah kehidupan yang baru. Bersama perempuan tua bernama mak Giwuk, bersama perempuan perempuan yang kurang lebih sebaya dalam sebuah rumah yang lebih bagus dari gubuk ibunya. Bersama cerita cerita perkosaan yang lebih membungkam, yang menantangnya setiap saat untuk percaya bahwa itu adalah kehidupan yang biasa. “Tak ada satupun yang baru terjadi,” kerap Setiti berbisik untuk kehidupan barunya. “Tak ada satupun yang baru terjadi dengan diriku …”

Manusia yang sanggup dan mau berpikir meski sedikit tentang keberadaannya, pasti takkan punah samasekali dari mengharap. Setiti patut disyukuri berhubungan dengan hal ini. Ia masih punya kemampuan berharap untuk setiap detik yang akan dilaluinya. Setelah ia lepas terusir dari kehidupan dengan ibu dan ayahnya, Pak Somon, ia masih tertampung dalam kehidupan mak Giwuk bersama teman teman perempuan centilnya kini. Tetapi kenyataan itu memberinya kesadaran tentang hidup yang lebih layak, baik, bersih dan terhormat, tentang usia yang dirasakannya berjalan terlalu cepat, dan kematian. Ya, kematian amat mengerikannya, jika ia ternyata tamat dalam lingkungan yang makin lama makin dirasa absurd ini.

Kesimpulan kecil dari kekhawatiran kekhawatiran ini, menurut keyakinan Setiti adalah ia mesti mempunyai suami. Ya, seorang lelaki yang tetap hidup bersamanya baik dalam suka dan duka. Yang menjaga mata, bibir, tangan dan segala yang ada padanya dari bersentuh dengan sembarang laki laki. Yang mengembangkan semakin besar harapan harapannya dalam keseharian. Dan yang mendoakannya nanti ketika ia tiada. Kesimpulan kecil itupun lama lama menguat menjadi harapan, menjadi obsesi dan menunggu untuk dinyatakan. Tetapi kadang kadang ada juga ketidakyakinan, bahwa segalanya ini hanyalah satu gejolak dari kebosanan terhadap kesundalan nasib hidupnya.

Dan dalam sebulan terakhir, doa yang tak pernah diucapkan Setiti sepertinya hendak mewujudkan diri. Ada lelaki dengan janjinya yang mengarah untuk berumah tangga dengannya. Setiti menjadi seriang Setiti yang dulu, Setiti yang bersekolah dan mempunyai cita cita kecil menjadi perawat. Lelaki itu bukan lelaki yang luar biasa, namun cukup untuk menghargai harapan harapan Setiti. Ia seorang sopir taxi dengan kegemaran melacur juga.

“Kau mau kan menjadi istriku, Ti!” tanyanya di sela sela kemesraan kencan suatu waktu. Setiti tidak tahu harus mengucap apa. Sebagai sundal, apa dapat mewakilkan keinginan dan pengertian pengertiannya lewat kata kata? Kata kata kan untuk manusia manusia yang punya keleluasaan memilih, bukan yang hanya bisa pasrah bersetuju. Setiti tersenyum dengan kegenitan yang agak beda, kegenitan calon istri untuk lakinya.

“Aku telah berkencan dengan banyak perempuan. Tetapi tak ada yang sepertimu. Bisa membangkitkan ketagihan. Mungkin bagiku itulah yang kata orang orang pinter disebut cinta,” lanjut lelaki itu dengan rayuan kumuhnya. “Ketagihan, cinta, ketagihan, cinta. Ya, cinta adalah ketagihan!” Sambil menggitik gitik Setiti, lelaki itu berkata diselingi tawanya yang kumuh pula.

Tak ada pengertian lain bagi Setiti untuk terlaksananya niat berumah tangga, apalagi tambahan model ‘cinta’ segala. Model model begitu terlalu jauh dari jangkauan kesempatannya. Ia hanya ingin terbebas dari kesundalannya, menjadi selain Setiti yang kini…

Tetapi nasib buruk tega teganya datang menjenguk Setiti, di klimaks pengharapannya. Lelaki dengan janji rumah tangga itu bukanlah lelaki untuk jalan keluar. Ia lelaki dengan sejuta beban yang ingin ditumpahkannya. Sorga dari harapan telah berubah, kembali menjadi utopia.

“Mas, kapan kita menikah?” Setiti tampak ragu dengan pertanyaannya.

“Bisa besok pagi, bisa kapan saja,” jawab lelaki itu.

“Bagaimana kalau sebulan lagi kita menikah?” Setiti berbinar bola matanya. “Aku sudah ingin mengakhiri…”

“Maksudmu, kau ingin berhenti berkencan dengan lelaki lain?” potong lelaki itu. Ada perasaan gembira Setiti mendengar lelaki itu menyebutkan kalimat yang hendak diutarakannya.

“Ya, mas. Aku untukmu sepenuhnya. Kapan saja,” canggung juga Setiti melontarkan isi hatinya. Sudah biasa memang Setiti tidak melatih memberikan pelayanan yang luar biasa dengan kata katanya. Hanya ketelanjangan, wajah tanpa dosa dan gerak tubuhnya yang ia tugaskan memabukkan laki laki.

“Tidak Setiti! Tidak! Kau, kalaupun menikah denganku tidak perlu berhenti dari satu satunya cara yang bisa memberikan uang kepadamu. Kau harus tetap menerima tamu, dan aku yang nanti menjagamu. Aku punya banyak kenalan yang bisa royal asal mendapatkan kencan dengan perempuan semanismu. Tidak, jangan salah paham dengan pernikahan kita. Kita akan…” Lelaki itu ngomong berpanjang lebar sembari senyum senyum. Untuk selanjutnya ia kelihatan begitu licik. Tampak ia seperti orang jahat yang ketahuan sepenuh belangnya.

Sampai batas tertentu Setiti menjadi tuli, tak mendengar dan tak ingin mendengar apa apa lagi. Titik titik air deras keluar dari matanya, menguras sinar serta memelompongkan isi dan nuansa yang ditampungnya. Otaknya menjadi kabur dari segala pengertian.

Pada ruang waktu sebelum segalanya menjadi lain, ia merasakan selimut yang dipakainya ditarik dengan bernafsu. Ada tindihan yang terasa makin berat. Ada dengus yang tak menghormatinya sebagai manusia. Ada jeritan kecil dari kepuasan yang naif. Ada keringat yang bukan keringatnya. Setiti pun kemudian tertidur, entah pingsan.

Di hari Minggu, besoknya, ia turun dari kasurnya. Bersimpuh di lantai dengan membiarkan dirinya dalam keadaan telanjang.

Setiti bukan lagi kehidupan. Ia hanyalah sesuatu yang bernyawa. Kini Setiti adalah…

+++

Pernah dipublikasi di Majalah Sastra HORISON, edisi September 2001

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.