Samsara

Novel ini masih merupakan proyek adaptasi yang saya kerjakan terhadap film yang sangat saya sukai: Samsara. Sebuah film dengan tagline: ..what is more important: satisfying one thousand desires or conquering just one? Sayang versi 'hampir lengkap' dari adaptasi ini hilang bersama digondolnya laptop saya oleh maling ;-( Saya masih ingin melengkapinya, jadi anggaplah yang ada ini jaga-jaga supaya tidak sia-sia.

.TAKDIR

Langit biru sangat cerah. Di atas, seekor elang melayang seperti sedang menyapu awan dengan sayap lebarnya. Awan-awan menyingkir ke sisi-sisi cakrawala. Elang itu maharaja yang sepertinya telah memindahkan segala benda sehingga tempat ia melayang hanyalah padang luas langit biru dan tanah kering di bawahnya. Gunung dan bebukitan terpinggir di batas lingkar cakrawala juga. Serta danau. Tiba-tiba seperti sebuah perintah takdir, elang menukik ke tanah berbatuan. Mengambil satu batu berukuran lima kepalan tangan. Kembali kepada mega, melayang-layang sambil menggenggam kuat batu di cakarnya.

Di bawah bergerombol kambing gembalaan. Sepi dengan sesekali embikan yang putus asa, seperti mengekalkan nasib yang entah. Dua kambing berhadapan, tak ada yang tahu rahasia mereka dengan saling tatap itu. Namun di atas awan sebuah kehendak bebas sedang berjalan. Tiba-tiba seperti sebuah perintah takdir yang lain, elang melepaskan genggamannya. Batu itu menimpa salah satu kambing, tepat di tanduk sebelah kanannya. Dengan satu jeritan tertahan, kambing itu ambruk. Mati.

Di kejauhan rombongan biksu menyaksikan kejadian tersebut. Salah satu biksu muda yang berkuda dan membawa panji mendekat. Sekilas mengelilingi kambing itu, kemudian turun dari kudanya, membantu sang ketua rombongan turun dari kuda dan ikut memapahnya mendekati pilihan sang takdir. Sang gembala tampak berlari dari bukit kecil menuju kematian itu. Menunjuk nunjukkan tangannya ke langit, entah meneriaki elang atau kekuatan yang tidak dimengertinya yang bersemayam di langit, “Oh tidak, tidak, tidak lagi!”
Salah satu biksu berlari kecil, mengambil air di danau. Sang ketua menerima kucuran air dan menyiramkan dengan tangannya ke mulut kambing serta mengusap bagian mata. Dengan helaan nafas berat, takdir pun direlakan. Semua rombongan dan gembala tak ada yang bersuara. Seorang biksu bocah yang khusyu’ menjadi perhatian sang ketua. Kepala botaknya diusap dengan menegaskan kasih dan pengertian ‘inilah takdir’, tanpa kata-kata.

.TIGA

Rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Menjelang senja menjadi lebih senja di ketinggian bumi di atas lima belas ribu kaki di Ladakh, dataran Himalaya, India. Rombongan berjumlah tujuh, lima dewasa, satu remaja dan satu orang bocah dengan disertai lima kuda yang berbeban. Mereka membisu. Seperti sedang menyambut roh paling tidur yang bersukacita dengan segala tanpa-geraknya. Hanya gemerincing lonceng kuda yang dapat didengar telinga, dan tasbihan alam yang suci –kalau kita menyelaraskan kuping batin kita dengan semesta, yang terdengar seperti nyanyian bidadari tibet yang merdu. Memerangkap segala energi negatif, rasa sakit dan dosa.

Mereka berhenti sebentar. Beristirahat. Yang haus melepaskan dahaganya, dan yang lelah melepaskan penat dengan memijat-mijat sendiri betisnya atau berbaring tiduran. Tak lama, mereka kembali dalam perjalanan…

Sampai juga mereka di kuil, bangunan yang seperti ditempelkan di batu karang besar di atas bukit itu. Sang ketua membuka penutup kepalanya, tersenyum puas. Sepanjang usaha mencari jalan masuk ke kuil, tak ada juga suara. Hanya bisikan si bocah ke telinga biksu muda yang bertanya, “Berapa lama?”

“Tiga tahun, tiga bulan, tiga minggu, tiga hari.” Jawabnya dengan setengah berbisik juga. Kemudian mereka berhasil masuk, dengan memaksa mendorong sebuah pintu pendek, jalan satu-satunya. Di dalam sangat gelap. Satu-satunya cahaya kini adalah dari pintu masuk tadi. Sesosok manusia duduk dengan posisi beryoga. Sangat khusyu’. Sangat lupa, mungkin. Ia tidak mati tetapi lebih lelap dari tidur dan tidak sadar lebih dari pingsan. Rambutnya sepanjang dada. Tergerai kumal dan masih memperlihatkan ketaklukannya pada hukum gravitasi. Manusia itu bernama Tashi…

Tashi telah menghabiskan waktu, sebagaimana telah dijawab tadi: tiga tahun tiga bulan tiga minggu tiga hari, untuk menyucikan diri, bermeditasi…
Dengan sangat hati-hati seseorang berusaha membersihkan Tashi. Yang lain memberi api ke lampu-lampu minyak yang ada di sekeliling. Memberikan cahaya sekedarnya. Jari jemari Tashi kaku dalam sikap yoganya, seperti sampai pada bentuk tangan yang paling sempurna relijius. Kukunya sangat panjang dan melengkung kotor. Lalu tangan itupun diluruskan ke bentuk membuka. Dengan hati-hati pula.

Lama Apo mendekat, duduk di sisi kanan tubuh Tashi, lalu mendekapkan tangan ke jantungnya. Yang lain, dengan menyibakkan rambut di sekitar kuping kirinya, memberi kabar dengan bisikan, “Tashi, kami akan mengambilmu kembali…” Sementara itu tangan Lama Apo menyisir rambut Tashi, dari belahan di dahi ke bawah telinga. Dan mengatakan dengan kegembiraan campur keharuan yang dipendam dalam, “Tashi, inilah waktunya…” Mangkuk emas (XX) digesek didekat telinga Tashi. Menggemakan suara paling alami dari benda itu. Gugahan untuk kembali hidup, membuka semua indra. Menyadarkan jiwa bahwa ia masih makhluk hidup di dunia ini. Dengan sangat perlahan dan kerjapan kecil, Tashi mencoba membuka mata. Namun kemudian matanya ditutup dengan kain sutra marun. Hal tersebut untuk mencegahnya matanya kaget terhadap cahaya yang tiba-tiba.

.MANUSIA

Tashi dinaikkan ke atas kuda yang sudah dipersiapkan dengan dipasang semacam tandu. Rombongan pun meninggalkan kuil…

Di sebuah sungai mereka berhenti. Sudah waktunya Tashi dimanusiakan kembali. Rambut, kumis dan janggutnya dicukur habis. Kukunya dipotong. Tepatnya mungkin dibiksukan kembali. Dan akhirnya dimandikan. Dengan air, makhluk yang sangat lemah tetapi telah dibersihkan itu disadarkan: terataimu sekarang adalah seluruh hamparan bumi. Seragam biksu untuk Tashi dan minuman ramuan tanaman obat dipersiapkan sudah.

Di awal malam di depan api unggun kecil, Tashi seperti bayi yang pasrah disuapi minuman. Mantra-mantra dibacakan untuknya. Ada juga yang tampak membaca sutra di dalam hati. Dan Lama Apo berkomentar bangga, “Tashi, kamu terlalu memaksakan diri…”

Menjelang siang esoknya, rombongan penjemput Tashi hampir sampai di biara. Bosan dengan posisi duduknya sepanjang perjalanan, yang diisi antara lain dengan mencermati selembar daun di tangan, Tashi merebahkan tubuhnya di punggung kuda. Matanya terbuka memperhatikan tumpukan batu yang dibentuk bagai benteng biara. Berbagai tulisan tampak dipahat di beberapa batu yang dilewatinya. Sebuah batu agak besar menarik perhatiannya. Di sana tertulis tebal kata-kata: Bagaimana mungkin seseorang mencegah setetes air mengering musnah? Tashi mengernyitkan dahi, seolah tulisan itu membuatnya berfikir tiba-tiba. Tulisan sederhana yang bisa menguras segala kausalitas hidup dan semestanya. Tentang cara bagaimana seeorang harus hidup dan menghindar darinya.

Seseorang mendongakkan kepala Tashi yang terlihat masih lunglai, mengarahkannya untuk melihat bangunan biara yang bercat putih. Senyum berkembang di wajah mereka. Tiba di gerbang, beberapa biksu menyambut dan menurunkan Tashi dari kudanya. Sambutan juga datang dari seekor anjing hitam dengan gonggongan kecilnya yang riang. Sebuah seruan lemah entah dari siapa menandai kedatangan rombongan, “Apo telah kembali…”

Dua orang hendak memapah Tashi. Tashi mengulurkan tangannya, mengusap anjing hitam yang juga berlari mendekatinya. “Kala!” kata Tashi tertahan, hampir seperti gumam. Kemudian Tashi dibantu berjalan. Masuk ke bilik yang telah disediakan untuknya. Di dalam ia duduk bersimpuh sambil mendapatkan semangkuk air. Sejurus teman biliknya keluar menenteng tempayan kecil tempat air, matanya menerawang jauh ke luar jendela. Bukit-bukti berdiri tak beraturan dengan berbagai warna. Bukit terjauh berwarna putih, entah cadas entah salju.

Masih di siang hari, Tashi dengan dipapah teman biliknya mencoba berjalan dengan tertatih. Di tangan kirinya sebuah tongkat ikut menopang. Kala juga menyertainya. Di halaman terlihat seorang ayah sedang berpamitan dengan Apo.

“Sekarang saya harus pergi…” katanya.

“Semoga kembali dengan selamat,” jawab Apo.

Namun anaknya, yang diserahkan ayah tersebut ke biara ini, menangis mengejarnya, “Tidak. Aku mau ikut pulang…” Dua orang biksu mencegah dan berusaha merajuk mengembalikan anak itu ke dekat Apo.

Tashi dan temannya memperhatikan kejadian tersebut agak di kejauhan. “Tashi, apakah kamu juga menangis saat dulu ayahmu meninggalkanmu di sini?” tanya temannya. Tashi menyimak pertanyaan itu, layaknya dengan serius, tapi tidak menjawabnya.

.INISIASI

Biksu kecil menuangkan air ke mangkuk-mangkuk di depan arca Budha. Dia mengerjakannya dengan teliti dan kekhusyukan orang yang sedang berdoa. Apo, Tashi dan temannya tampak sembahyang dengan khidmat. Berhadapan persis dengan arca Budha. Apo membuka sedikit matanya dan mengabarkan kepada Tashi, “Lama Ketua, Yang Dipersucikan Chen Tulku, akan melaksanakan inisiasi suci dalam lima hari ini. Beliau meminta kamu ikut menghadiri.” Giliran Tashi membuka matanya. Ia tidak mengeluarkan kata-kata, hanya anggukan sebagai tanda kesediaannya.

Di tengah malam, saat sedang mengerjakan lukisannya, VVV mendengar lenguhan seperti orang yang sedang bercinta dari tempat Tashi tidur. Ia pun meletakkan gambarnya dan beranjak menemui Tashi. Di hadapannya kemudian tampak Tashi yang memang sedang tertidur, namun lenguhannya belum berhenti. Penisnya tampak mengacung di balik selimut marunnya. Tashi sedang mendapat mimpi basah kelihatannya. VVV dengan segera balik ke tempat tidurnya, seperti kebingungan mencari cara menyimpan rahasia pendengaran dan penglihatannya itu. Dengan dua kali tiupan lampu damar dimatikannya, lalu ia merebahkan diri untuk tidur. Sementara itu Tashi terjaga, duduk dan seperti kebingungan. Sebentar kemudian melihat ke arah penisnya. Di situ kain selimutnya tampak sekali membasah.

Keluar dari biliknya di pagi hari, Tashi menenteng selimut serta baju yang dipakainya tidur semalam. Di bawah tangga, Kala sudah menunggu dan mengikutinya mendekat ke tempat cuci yang hanya beberapa langkah dari tangga. Tashi memberi minum Kala dengan mangkuk kecil yang ada di sana. Dan dengan menggunakan mangkuk yang lebih besar, ia mulai membasahi selimutnya, mencuci.

“Maka Sidharta meninggalkan istana dan kehidupan mewahnya,” Sebuah suara pertama mampir di telinganya di pagi itu, tidak lain dari VVV yang sedang bercerita kepada tiga orang anak. Salah satu di antaranya sedang dipotong gundul olehnya.

“Dari balik kereta emasnya, dia menyaksikan penderitaan untuk yang pertama kalinya,” lanjut VVV. “Lalu di suatu malam, Sidharta memutuskan untuk meninggalkan Yashodara, istrinya yang sangat cantik, dan Rahul, putranya, untuk pergi jauh…”

“Jadi dia meninggalkan anaknya?” tanya bocah yang baru selesai dicukur gundul itu, dan sekarang sedang dipakaikan baju.

“Ya, betul.” Jawab VVV, “Karena dia ingin mengetahui penyebab yang sebenarnya dari penderitaan kita dan…”

Sebelum VVV tuntas menyelesaikan kalimatnya, si anak menangis dan menyatakan, “Aku ingin pulang!”

Dari tempat cucinya, Tashi menyimak dengan seksama dan mengiringinya dengan tersenyum-senyum kecil.

“Setelah dua puluh tahun belajar di biara ini, Lama Tashi telah menyelesaikan meditasi tiga tahunnya. Sesungguhnya itu merupakan jalan menuju nirwana.”

“Yang Dipersuci, Dhyan Rinpochey memberikan kepada Lama Tashi gelar yang mulia Khenpo sebagai pengakuan bagi prestasinya.”

“Dia biksu yang sangat baik!”

.YASHODARA

Pema:

-Yashodara! Apakah kamu tahu nama itu? Pangeran sidharta, gautama, sakyamuni, budha? semua orang tahu nama-nama itu! Tetapi, yashodara?

-Yashodara menikah dengan sidharta.Yashodara mencintai sidharta dengan segala kasihnya. Suatu malam Sidharta meninggalkan Yashodara, dan Rahul, anak mereka, selagi mereka tidur…, untuk mencari pencerahan demi menjadi Budha. Sidharta bahkan tidak berkata sepatah katapun kepada Yashodara ketika meninggalkannya…

-Yashodara telah memperlihatkan rasa prihatinnya terhadap orang-orang yang sakit dan mengalami rasa sakit lama sebelum sidharta bahkan sadar akan penderitaan…

-Siapa yang pernah mengatakan jika Sidharta berutang Perncerahan kepada Yashodara?

Tashi:

-PEMA!

Pema:

-Barangkali Yashodara ingin meninggalkan Sidharta & anaknya Rahul. Bagaimana mungkin kita tahu jika Yashodara menjadi korban kemarahan bagi kesepian atau kepedihan setelah Sidharta meninggalkannya

-Siapa yang pernah berfikir tentang dia?

Tashi:

-PEMA!

Pema:

-Apa yang mesti Yashodara katakan bilamana Rahul, anaknya, bertanya perihal pertanyaan abadi: di mana ayahku? Apa yang mesti dia katakan?

-Bagaimana bisa seorang ibu meninggalkan pergi anaknya sendiri di tengah malam gulita? Tindakan seperti itu hanya mungkin dilakukan seorang lelaki. Tashi, itu hanya mungkin bagi lelaki…

-Setelah itu, Yashodara sama sekali tak punya pilihan. Dia harus menjalani sebuah kehidupan pembuangan.

-Dia mencukur seluruh rambutnya, dan hidup laksana seorang pertapa.

-Oh Tashi, jika pikiranmu menuju Dharma memiliki kepenuhan yang sama sebagaimana cinta dan gairah yang telah kamu perlihatkan kepadaku, kamu mungkin akan menjadi seorang Budha…dalam satu-satunyanya tubuh di satu-satunya hidup ini..

Tashi:

-PEMA, maafkan aku… Aku akan kembali bersamamu. Kembali kemana aku semestinya…

HIDUP

Bagaimana mungkin seorang mencegah setetes air dari mengering musnah?
Dengan melemparnya ke dalam laut…

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.