Pengalaman Emas di Mesjid Kubah Emas

Curhat Peri Umar Farouk

Apa yang paling penting
dari sebuah mesjid?

Tidak lebih dari seminggu sejak Idul Fitri, kami berkunjung ke Mesjid Al Mahri Depok, yang saat ini dikenal orang sebagai mesjid kubah emas. Kami bersama empat anak kami ingin menikmati sendiri bangunan yang menurut berbagai pihak luar biasa itu.

Kamipun berangkat dari rumah pukul 09.30 WIB, Minggu 21 Oktober 2007. Pikir kami, syukur-syukur bisa menyempatkan sembahyang Dzuhur di sana, jadi tidak hanya datang seperti orang berekreasi. Tiba pukul sebelasan, kami pun mendapatkan parkir di ujung dekat danau, karena pengunjung lumayan membludak. Masih di dalam mobil, istri saya bilang, “Wow, jadi ingin cepat-cepat naik haji nih!” Tentu merasa takjub dengan bangunan al Mahri yang baru tampak sekelebatan itu.

Setelah berjalan 400an meter dari lokasi parkir, melewati taman rumput yang dihias pohonan jambu, kamipun sampai di pintu khusus pengunjung perempuan. Istri dan Sasha, anak perempuan saya yang baru kelas 6 SD, mencoba mengantri. Dan saya bersama ketiga anak laki: Alif (4 SD), Jibran (1 SD) dan Farrel (Playgroup) menuju gerbang khusus laki-laki di sebelah selatan. Lumayan terik di tengah musim pemanasan global ini, tapi anak saya yang paling kecilpun tiada mengeluh dan tampak antusias.

Di bawah tangga, kami semua mencopot sepatu, kemudian berjinjit karena lantai granitnya menyengat. Sampai di atas, tanpa salam tanpa pengertian sedikitpun, kami dihadang seorang petugas berpakaian gamis yang kefayeh merahnya dipasang ala orang Arab. Di tengah kerumunan orang, Jibran dan Farrel hanya bisa menunduk ditunjuk-tunjuk sang penjaga.

“Anak kecil nggak boleh masuk, sebentar lagi sholat, mengganggu kekhusyu’an!” bentaknya.

“Saya jamin anak saya nggak seperti itu,” bela saya, “Anak-anak saya sudah terbiasa di mesjid.” Lanjut saya. Semua anak saya sekolah di SDIT Al-Khairat, yang dibiasakan dan sebagian kegiatannya memang di mesjid. Saya sangat percaya mereka bisa menempatkan diri, sebagaimana saya saksikan sendiri setiap sholat Jum’at dengan mereka.

“Nggak usah banyak bicara kamu!” kemarahan di penjaga malah bertambah.

“Bapak, yang nggak usah banyak bicara!” saya tetap membalas. “Saya cuma mau ikut sholat.” Masuk Dzuhur waktu itu tinggal 10 menitan lagi.

“Kami ini udah berpengalaman,” sombongnya, “Anak kecil di dalam mesjid, kalau nggak muntah, berak, kencing, pasti lari-larian!”

Kami saling melotot, tapi saya istighfar, tak ada lucunya kalau memaksa. Kami pun turun kembali. Di sela-sela memakai sepatu si Alif nyeletuk, “Mesjid yang aneh!” Saya mengiyakan, dan bersyukur mendapat anak-anak yang emotional intelligencenya jalan.

Saat kembali ke parkiran, saya menelpon istri untuk segera pulang. Sambil berjalan saya bercerita demi menghibur anak-anak, “Nabi Muhammad itu sangat mencintai anak-anak. Cucunya, Hasan dan Husain, pernah naik ke punggung Nabi ketika sujud. Dan Nabi tidak marah, tidak juga mengkhawatirkan kekhusyu’annya…”

Di akhir cerita saya tambahin motivasi, “Alif, camkan ini ya, kamu mesti membangun mesjid yang ramah kepada anak!” Dengan enteng si Alif menengadahkan tangannya dan menagih, “Uangnya mana?”

Sepanjang perjalanan menuju mobil, kami tetap menggembirakan diri. Hiburan kami dapatkan di sisi kanan kiri taman, melihat bolak balik penjaga taman mengusir orang-orang yang mencoba duduk di rumputan. Sesekali ada orang menawarkan makanan atau minuman, sembunyi-sembunyi berjualan.

Si Farrel yang dari tadi membisu, tiba-tiba ngomong, “Nanti mau cerita ke mamah ah, Farrel dimarahin sama polisi,”

“Hes, pak polisi tidak pernah melarang kita sholat,” jawab saya cepat, “Tadi itu bukan polisi, tapi orang yang anak-anaknya sendiri suka nakal di dalam mesjid!” Kemudian melesat pikiran baik saya, semoga si penjaga yang amarah tadi bukan sedang kesal terhadap nasibnya mempunyai pengalaman atau punya anak yang kekurangan kontrol baik fisik maupun mentalnya, atau bahkan mengidap manik-depresif, hiperaktif atau sekedar epilepsi yang kerap kambuh di dalam mesjid.

Saya pun mencoba membingkai positif cara pandangnya, “Mungkin iya juga ya, bayangkan kalau anak-anak di dalam mesjid ngompol, ngeludah, ngupil, buang angin, kebelet ee’..” Namun tetap pikiran saya tidak lepas dari rasa heran: bayangkan bila falsafah si penjaga al-Mahri ini menghinggapi semua mesjid atau musholla di seluruh dunia, “di manakah anak-anak kita bisa belajar sholat, doa, mengaji Quran serta itikaf, dengan derajat kekhusyu’an yang juga diikhtiarkan orang-orang dewasa?”. Di mana?

Melihat saya masih gusar, setelah bercerita kepada mamahnya, di dalam mobil di sela-sela tagihan pungli di luar gerbang, si Alif menghibur saya dengan jenaka, “Mereka nggak tahu kali yah, bahwa kita ini ‘Para Pencari Tuhan’,” dia menyebut judul sinetron favoritnya, dan langsung melanjutkan, “Bukan Para Pencari Mesjid!”

***

Niat saya menulis ini, saya serahkan kepada Tuhan. Namun secara duniawi, siapapun yang tak ingin merugi mempunyai kewajiban salah satunya untuk saling berwasiat kebenaran. Mesjid Nabi di Medinah, yang juga bagian dari rumahnya, adalah tempat yang terbuka dan sangat berkah. Meski sederhana tetapi di sanalah tempat semua orang singgah, berlindung, berteduh, bahkan bertempat tinggal, termasuk para miskin papa yang sering disebut Ahlus Suffah. Di sanalah tempat pembelajaran berbagai pikiran, motivasi dan perangai terpuji. Terbukti dari satu teladan di antara Ahlus Suffah, yakni Abu Hurairah, si perawi hadits terbanyak.

Maka ikhtiar fisik yang fantastis dengan mesjid al Mahri ini, yang sepengetahuan saya terhormat karena terbebas dari gangguan merepotkan sumbangan di jalan-jalan, semoga sama besarnya dengan penumbuhan ketakwaan di tengah-tengah kita, ikhtiar sesungguhnya yang akan dihitung Allah SWT. Rasa kepemilikan terhadap mesjid, tentu bukan menjadikannya kristal tak tersentuh, yang malah menjauhkan orang dari ibadahnya. Sayang sekali bila pengorbanan sebegitu besar, kemudian jadi ajang kepicikan dan pelecehan daya spiritual anak. Bahwa ia tidak ubahnya pembawa najis, serba sembrono, makhluk belum relijius atau pengacau kekhusyu’an.

Saya tutup curhat ini dengan satu retorik sebagaimana dipertanyakan di awal: Apa yang paling penting dari sebuah mesjid? Bagi saya bukan kubahnya meski itu berlapis emas. Bukan tiang-tiang dan segala ornamennya yang Arabesque. Bukan lantai marmer atau granitnya yang nomor wahid. Bukan karpet dan sajadahnya yang impor Persia. Bukan air mancur atau taman-tamannya yang beraneka rupa. Yang paling penting dari sebuah mesjid adalah ‘ruang kosong’nya. Tempat di mana siapapun, laki-laki dan perempuan, anak-anak serta dewasa, berpeluang merehatkan hatinya, mengadukan keresahannya, menyambungkan rasa kangen kepada Dzat Maha Tinggi, mengasah ketakjuban dan rasa syukurnya pada hidup dan tempat segala doa dipanjatkan. Dan terutama tempat semua orang bisa naik ke haribaan Allah al-Malikul Quddus melalui sholat-sholatnya.(PUF)

Jakarta, tengah malam, 21-10-2007

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.