Panu

Apa yang membuat hidup seorang manusia berharga? Pertanyaan itu mengganggu Centet akhir-akhir ini. Ya, apa yang membuat hidup manusia hebat. Dianggap berhasil. Sukses. Patut diacungi jempol? Belum pernah Centet mau menertibkan waktunya untuk berpikir, apalagi untuk hitungan yang tidak sebentar. Dari subuh sampai tengah malam. Dari senin ke senin lagi. Seminggu. Sebulan. Bahkan sampai detik ini telah menghabiskan bulan tiga, minggu satu, hari empat, tujuh jam duapuluhsatu menit tigabelas detik. Tapi untuk urusan yang satu ini ia rela bertahan. Mengetahui apa yang membuat hidup berharga adalah inti hidup yang paling inti.

Centet mengingat banyak orang dan banyak kejadian. Mengumpulkan, menganalisis, menyamakan, mempertimbangkan, membandingkan. Dari Hitler si Fuhrer sampai Alfonso Capone si dedengkot mafia. Dari Socrates sampai Mahatma Gandhi. Dari nabi-nabi sampai para ulama. Raja-raja. Presiden. Artis. Atlet. Pak Lurah. Pak RT. Tetangga-tetangga. Dan terakhir anggota keluarganya sendiri, ayah, ibu, kakak dan adik-adiknya.

“Apa yang membuat Hitler hebat? Dengan kumis lucunya yang dicontoh Charlie Chaplin itu mampu menyengat histeris banyak orang. Telunjuknya bisa menyihir orang jadi mayat ataupun boneka. Langkahnya yang mirip mainan robot Jepang berdebum seperti bom yang dijatuhkan di Hiroshima Nagasaki. Dan orang-orang bertekuk lutut. Mengingatnya sampai sekarang.”

“Dan Mahatma Gandhi?! Si kurus kerempeng itu telah memerdekakan India. Tanpa makan. Tanpa baju. Tanpa senjata seujung pines pun.”

“Pak RT?! Hanya dengan secarik kertas tipis lusuh yang ditandatangani dan diberi stempel tidak jelas mampu memungut sumbangan dari penduduk.”

Kakak dan adiknya? Dari TK sampai sekarang ini terus jadi pemimpin. Ya ketua kelaslah, osis, band sekolahan, pramuka, karang taruna, demonstrasi dan jadi ketua-ketua lain. Dan Centet sendiri? Ia berpikir tentang dirinya. O, sungguh sedih. Mengharukan. Hina dina. Tak sekalipun pernah merasa mampu mengatasi orang lain. Jangankan dalam jumlah yang banyak, satupun tidak. Mana bisa berharga hidup ini? Batinnya merutuk terus. Mengapa orang bisa begitu berharga sehingga dirinya, sampai ke hal-hal remeh setaikukupun mempunyai pengaruh terhadap kehidupan yang lebih besar dari kehidupan pribadinya?

Sekarang ia berusaha meyakini sebuah kesimpulan. Harga manusia adalah pengaruhnya. Ada bagian dirinya yang menentukan kehidupan orang lain. “Yihaa! Aku telah menemukan inti hidup. Aku telah menemukannya!” suara Centet gemetar oleh beratnya kesadaran pencerahan. Setelah memasukkan kaset rap disco ia pencet tombol play dan memutar penuh volume tapenya. Ia berjingkrak-jingkrak sendirian. Girang tak kepalang. Orang serumah heran-heran kaget. “Si Loyo. Si Apatis. Si Kedul naudzubillah kok bisa-bisanya seribut ini!”

Untung tidak lama. Orang serumah kompak mengucap syukur. Perlahan þ 0 �?3 �?Štapi pasti Centet mengecilkan suara tapenya dan ia pun memaku diri dan menerawangkan pandangan ke luar jendela.

“Tahu bahwa inti hidup adalah pengaruh belum berarti apa-apa. Mengetahui belum berarti banyak. Baru menginjak titik nol. Aku harus punya pengaruh. Ya aku harus mampu mempengaruhi hidup orang lain. Itu baru melangkah menjauhi nol. Tetapi dengan apa? Bagaimana supaya aku bisa berpengaruh?”

Pikiran Centet bundet kembali. Pencerahan yang tadi samar-samar terasa sebagai karunia kini menyiksanya. Pengetahuan adalah siksaan. Ia pun berniat tidur saja sepulas-pulasnya ketika menyadari ada titik-titik air keluar dari mata dan berleleran di kedua pipinya. Diputarnya tuning radio ke gelombang favoritnya. Terdengar lirih suara Freddy Mercury ditingkap denting piano.

- Is this the real life? Or is this just fantasy?
Caught in a landslide, no escape from reality …) *

Siang itu matahari bagai mata seorang raja Mesir Kuno. Despotis. Otoriter. Menyala-nyala sendirian memusnahkan seluruh awan hitam maupun putih. Dua jam saja manusia membiarkan diri disorotnya pasti akan jadi dendeng para kanibal. Tetapi Centet tidak merasakan. Suntuk sendirian di taman belakang membaca buku ‘Ba-gaimana Menanamkan Pengaruh Kepada Orang Lain; Sebuah Kiat’. Hatinya yang sejak kemarin beku telah menges-abadikan seluruh bagian tubuhnya. Dengan tekun dan teliti ia buka satu persatu halaman buku yang dengan susah payah didapatkannya itu dan membacanya dengan perhatian penuh.

“Buku menarik! Sayang terlalu bertele-tele dan mengada-ada.” gumamnya. Tetapi ada satu bab yang telah dilewatinya sangat mengganggu. Membangkitkan rasa ingin tahu. Bab-bab lain walaupun dibaca dengan tekun, teliti dan konsentrasi penuh hanya lewat begitu saja. Lain dengan bab ini; Meditasi Sebagai Upaya Pengenalan Diri Yang Terpendam, begitu rangkaian huruf yang tercetak tebal di baris paling atas halaman limapuluhtiga. Seolah judul dan kalimat-kalimat bab itu mengusir seluruh sel yang ada di otak dan ganti memadatinya. Centet bertekad bulat, daripada susah-susah memamah buku itu sampai habis kemudian menanti lama untuk merasakan hasilnya bisa mempengaruhi orang lain, lebih baik bermeditasi saja. Toh yang namanya segala sesuatu pasti berpusat di satu inti. Kitab suci ada ummul kitabnya. Benda-benda ada atomnya. Buku ini? Mungkin bab meditasi inilah intinya. Bila telah memegang inti sesuatu, akan mudah menguak keseluruhan rahasianya.

Sudah tujuh hari tujuh malam Centet bersila ala para Yogi. Duduk dengan kaki dilipat-tindih-silangkan. Badan tegak. Mata terpejam. Tangan di tempel di lutut dengan jempol dan telunjuk membentuk huruf O. Huruf O atau nol itu menandakan bahwa ia sedang menuju wening. Hening. Jangan diartikan ia tengah merindukan kue donat. Yang ada adalah kosong. Perut kosong. Pikiran kosong. Nafsu kosong. Seluruh indra kosong. Kosong kosong. Kosong.

Sudah tujuh hari tujuh malam Centet bersila ala para Yogi. Tidak ada kejadian-kejadian aneh atau ajaib menimpanya, semisal bertemu Ken Arok yang memberinya Keris Empu Gandring atau bertemu Aladin dan mewarisinya lampu teplok butut atau bertemu Bung Karno yang menitipinya tongkat komando besi kuning atau bertemu Popeye dan menyuguhinya sayur bayam. Tidak. Yang terterobos mata batinnya hanyalah sebuah layar berwarna sawo matang menjurus ke hitam. Pada layar tersebut terdapat bintik-bintik putih berkapur. Bulat dan banyak sekali. Mata batinnya ia fokuskan ke bulatan yang paling besar. Daya optiknya ia perkuat sampai berjutakali lipat. Tampak kabut yang makin lama makin menipis. Setelah pemandangan itu jernih dalam bulatan itu jelas satu sosok manusia melingkar seperti bayi, tetapi tanpa ari-ari. Diperhatikan dari bulu-bulu lebat di beberapa bagian tubuhnya, tidak salah lagi ia seorang dewasa. Dan ketika bayi ajaib itu menoleh, terkejutlah Centet.

“Mang Sobari?!”

Mang Sobari orang terkenal di perkampungan dimana Centet tinggal. Bukan karena ia bekas pejuang empat-lima dan sekarang jadi pejabat. Bukan juga karena ahli sesuatu sehingga orang menaruh rasa segan terhadapnya. Ia terkenal karena pemberontakannya yang absurd dipandang oleh penduduk sekitar. Ia menolak komitmen kampung ini untuk membebaskan masyarakatnya dari penyakit kulit. Ia berjuang sendirian mempertahankan penyakitnya, malah berusaha memperbanyaknya. Ketika Pak Lurah datang ke rumahnya dan menatar tentang apa, mengapa dan bagaimana tujuan dari pembebasan penyakit kulit yang dicanangkan dalam program pemerintahannya, Mang Sobari mendengar tetapi mengabaikan.

“Coba bayangkan nanti! Apabila Mang Sobari sembuh, dibanding kampung lain kampung ini bisa lebih berbangga atas prestasinya. Karena apabila yang lain hanya bisa menanam papan nama Bebas Tiga-B di jalan-jalan desanya, kampung ini menambah satu papan lagi yang bertuliskan Bebas Penyakit Kulit. Kebesaran satu desa kan dilihat dari jumlah papan nama yang menghias jalan-jalannya?”

Mang Sobari tersenyum kecil, dengan polos dan sikap tenang berdalih, “Saya penjaga kepunahan. Jamur kulit kan tumbuhan langka.”

Pak Lurah merasa dipermainkan. Dan bisa dibayangkan kemudian apabila seorang birokrat membalas dendam. Mang Sobari sejak itu dianggap dan diperlakukan sebagai orang yang tidak sehat jiwanya. Ia pun terpencil. Ia tinggal menjadi teka-teki yang belum terungkapkan. Mengapa Mang Sobari bertindak seperti itu? Semua orang kurang tahu alasannya, termasuk juga Centet. Memang seperti itulah hidup, kadang ada satu dua hal yang tak dapat dimiliki awam. Dengan kata lain tak ada satu hal pun di dunia yang bisa jelas benar dimengerti.

Menarik maksud dari ilham meditasinya, Centet merasa yakin bahwa untuk jadi yang mempunyai pengaruh ia harus tega memelihara panu. Klenik dan terkesan macam-macam memang, tetapi apa lagi yang dapat diambil dari pengalaman itu? Mang Sobari kan hanya manusia panuan? Segala rencana dan strategi luap di benak Centet. Ia menginap beberapa hari di gubuk Mang Sobari dengan harapan cepat tertulari panu. Merasa mendapatkan teman setelah lama diacuhkan Mang Sobari sedikitpun tidak keberatan, malah kelihatan sangat gembira. Dalam beberapa hari itu Centet tidak kemana-mana. Ia bersama Mang Sobari layaknya dua idealis yang sedang menyusun sebuah revolusi. Lengket. Senasib sepenanggungan.

Tak ada halangan berarti. Satu langkah berhasil sudah. Kini seluruh tubuh Centet kecuali bagian muka terhias bola-bola kecil panu. Kalau ditelanjangi dan dilihat dalam jarak yang agak jauh ia persis lukisan Aborigin di pelepah kayu. Eksotis dan bikin greget.

Benar menurut keyakinannya. Tak ada kesia-siaan tak ada kepercumaan. Panunya adalah mu’jizat. Tengoklah! Setelah beberapa minggu lewat tampak perubahan di rumahnya. Centet menikmati betul hasil usahanya. Sejak kembali dari Mang Sobari ia langsung menyebarkan pengaruh. Pertama di lingkungan keluarga, karena dari keluargalah berangkatnya segala sesuatu. Di rumah ketika ayah, ibu, kakak dan adik-adik keluar, ia sibuk sendiri. Mondar-mandir dari kamar ke kamar. Membuka lemari pakaian dan mencobai hampir semua baju dan menyerapkan keringat yang sengaja dikeluarkan deras dari tubuhnya dengan bersenam berat di terik matahari. Menggosok-gosokan semua handuk dan sapu tangan ke leher dan punggungnya yang basah. Karena disitulah pusat migrasi panu di tubuhnya. Juga bergulingan di kasur dan tiduran di atas karpet dan kursi sofa. Kemudian memutar tubuh di tengah rumah dengan mata terpejam lunak dihembus kipas angin yang dicengkeram erat tangannya. Serasa ekstase Centet merasakan dirinya bagai setumpuk abu yang dihembus dan beterbangan ke segala ruang. Bagai abu kremasi jasad orang terhormat menabur satu samudera. Kecil tak kentara tetapi ada dimana-mana. Menempel di setiap benda. Di dinding, lemari, buku-buku, pakaian, sprei, meja, kursi, barang-barang elektronik, kaos kaki, sepatu, keranjang, piring, gelas-gelas antik, tas kresek. Bahkan di setiap kesempatan berkumpul Centet tidak pernah ketinggalan berkipas-kipas. Di samping untuk ekstase, itu juga cara yang menurutnya tepat untuk mengkabarkan perasaan bangga. Ia merasa yakin telah menjadi bagian yang tak mungkin terpisahkan. Menjadi udara merasuk ke jiwa ayah, ibu, kakak dan adiknya melalui ujung rambut dan pori-pori. Mengalir di darah, berenang di asam lambung dan cairan-cairan tubuh. Kecil tak kentara tetapi ada dimana-mana. Jauh beda dengan prestasi ayah, ibu, kakak dan adik-adik. Mereka hanya mampu menempel lencana dan piagam-piagam di tembok dan menderetkan piala di rak khusus.

Benar menurut keyakinannya. Tak ada kesia-siaan tak ada kepercumaan. Panunya adalah mu’jizat. Tengoklah! Setelah beberapa minggu lewat tampak perubahan di rumahnya. Ada sabun sulfur obat panu kadas kurap di wastafel dan kamar mandi, tergolek bagai butir mutiara dalam kotak perhiasan bagus. Ada bermacam obat penyakit kulit bentuk tablet, kapsul, suntikan dan krem pencet, berserak bagai harta karun Raja Sulaeman. Ada rutin dokter ahli penyakit kulit memeriksa ayah, ibu, kakak dan adik-adik. Tak tertinggal juga para pembantu, sopir dan tukang kebun. Itu semua mungkin merupakan benda dan hal-hal najis dulu. Paling diamit-amiti. Tetapi sekarang? Centet mengusap muka tanda bersyukur.

Ayah yang necis, kakak yang perlente, kini tak jarang berjoget menggerakkan tangan menggaruk-garuk seluruh tubuh. Ibu yang kebiasaannya pamer baju mahal dan indah-indah, kini seringnya hanya mengenakan daster belel. Kapok akibat kemarin baju sutera cina kesayangannya robek digosok-gosokkan ke tembok ruang santai Bu Glamori pas buka arisan ibu-ibu pecinta silaturahmi, karena tidak tahan rasa gatal di punggungnya. Adik-adiknya bolos pelajaran renang di sekolahnya karena malu tubuhnya belang. Kini segalanya berpangkal dan berujung di panu. Omong-omong panu. Aktivitas panu. Pagi siang panu. Malam-malam panu. Tak ada lagi sesuatu yang terjadi di rumah membuat iri hati Centet sehingga tumbuh perasaan kecil. Semua tampak jelas di mata Centet dan hidup keluarga ini bergerak atas pengaruhnya, “Akulah rahim keluarga ini! Nafas rumah ini! Inti dalam gerak ayah, ibu, kakak dan adik-adik. Jiwa yang mengatasi segalanya!”

Sering muncul kemarahan memang, tetapi tidak seujung kakipun menyurutkan langkah Centet. Semuanya malah membuatnya merasa semakin berharga.

“Gatal ya?!” kata Centet acapkali berkomentar terhadap siapapun yang dilihatnya garukan.

“Gara-gara kamu!” orang-orang di rumah seperti telah refleks menjawab ketus demikian. Mendengar itu Centet bagai mendapat kata pujian. Mendengar itu Centet bagai minum anggur Perancis di musim salju. Mabuk melayang-layang. Memikirkan kalimat itu lekat-lekat dan membukakan rahasianya. “Ya gara-gara aku! Karena akulah pengaruh! Akulah harga!”

Hanya satu yang masih mengganjal Centet. Semacam obsesi. Ia belum mampu sesuka hati membentuk panu yang ditularkannya hingga membentuk lambang cinta. Karena ia juga ingin yakin bahwa ia membawa pengaruh dengan cinta. Damai di bumi, batinnya.

+++

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.