Pada Sebuah Shooting

"Cut! Cut!"

Srini menarik nafas lega. Diambilnya kain putih penutup yang telah disediakan untuknya. Dibungkusnya tubuh setengah telanjangnya dengan kain tersebut, lalu duduk di kursi mengambil air putih. Kehausan yang biasa. Manusia-manusia lain yang terlibat dalam shooting hari ini di kamar ini sibuk dengan perasaan capek masing-masing, dan mencoba memanfaatkan waktu luang seperti itu untuk mencoba istirahat.

"Srini, manis!" sang sutradara mendekatinya. "Coba lebih kau hayati adegan ini. Coba! Biar hasilnya lebih surprise!"

"Wah, harus bagaimana lagi, Pak? Barusan kan sudah lebih syuur daripada biasanya." Srini menjawab sambil membetulkan letak duduknya.

"Kursi! Kursi!" sang sutradara meminta kursi. Seorang dari bagian pembantu umum memberikan kursi lipat, kemudian membuka lipatannya. Ia letakkan kursi itu berhadapan dengan kursi dimana Srini duduk.

"Begini Sri. Memang akting kamu tadi cukup bagus. Tapi… a-aku mendapat ilham bahwa kalau," sang sutradara kelihatan ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya. "Begini saja, eu-boleh aku berbisik?"

Srini melihat sebentar ke mata bimbang sang sutradara. Lalu membuka kedua tangan di bawah dagunya. Kepalanya mengangguk sambil dimiringkan. Bibirnya yang merah basah digigitnya.

Sang sutradara pun tersenyum. Lebih didekatkan lagi letak duduknya, sehingga dengan agak menyorongkan badannya ke depan sampailah mulutnya untuk membisiki telinga Srini. Untuk beberapa detik mulut sang sutradara terlihat dari sebelah pinggir berkomat-kamit.

"Nah! Bagaimana kalau kau tambah dengan gaya seperti itu?" sambil menyandarkan kembali badannya ia berseru.

"Tapi gaya-gaya seperti itu kan lazimnya tidak pernah lolos sensor. Percuma kan, Pak?" Srini merasa keberatan dengan tawaran sutradara lewat bisikannya tadi.

"Ya, itulah bisnis! Kita harus senantiasa tidak bosan-bosannya mencoba. Kemarin tidak lolos, siapa tahu saat ini!" jawab asisten sutradara yang tiba-tiba saja nyelonong ikut berbicara. Sepertinya ia tahu betul apa yang dimaksud sang sutradara.

"Betul! Kita harus mencoba terus," sang sutradara mengiyakan. "Bagaimana?"

Sampailah Srini pada saat-saat yang kerap harus selalu dilaluinya. Saat dimana pilihan-pilihan yang mungkin ia yakini dapat dipertahankannya, menjadi menipis hilang. Saat yang menggayutinya dengan beratus beban yang muncul secara mendadak, dan selalu saja memberikan akhir yang tidak memberikan kekuatan apapun untuk menolak. Kebakuan sikap yang ia coba pegang mengabur sudah, masuk ke dalam lamunan-lamunan tentang nasibnya.

Suara-suara dari berbagai ruang waktu yang telah dilaluinya berdengung-dengung di telinganya. Menempatkannya pada sudut-sudut yang berlain-lainan. Seolah ingin menggambarkan secara langsung dan serentak bahwa kehidupannya sebagai manusia memang sungguh-sungguh berwarna. Ada suka, ada duka, yang darinya putih hitamnya keseharian menjadi lebih kentara. Apalagi berkenaan dengan dirinya sebagai seorang janda.

"Maa! Si Ani punya tas beruang yang baguus deh, Ma," bayangan anaknya yang baru kelas dua sekolah dasar merebak di hadapannya. Ia selalu tersenyum memperhatikan bagian dari dirinya yang terasa tumbuh cepat melebihi yang dapat disadarinya. Ayu, anaknya dari perkawinan pertamanya yang gagal, kini telah jadi gadis kecil yang cantik. Dan sebagaimana gadis-gadis kecil lainnya, kemanjaan Ayu sudah tentu memberikan beban dan kenangan tersendiri. Ketika rasa penat dan kelelahan tiba, dan bersamaan dengan itu ada keinginan-keinginan tertentu dari Ayu, Srini senantiasa digugat oleh keberadaan gadis kecilnya itu sebagai darah dagingnya sendiri, "Siapa sih yang mampu menolak permintaan si kecil darah dagingnya sendiri?" Dan melihat kehidupan dengan gayanya yang seperti sekarang ini, Srini pun merasa harus terus berpacu untuk menempatkan Ayu pada keadaan yang sebaik-baiknya. "Akan seperti apakah masa depan bocah yang masa lalunya susah dan sengsara?" Srini sering bergidig mendengar pertanyaan hatinya sendiri.

"Bagaimana Srin? Kalau bisa lolos, dan film kita bisa laris, dan kau mendapat bonus yang besar, siapa juga yang beruntung?!" di sela-sela lamunannya, Srini mendengar sutradaranya terus mendesak. Selalu itu saja alasan-alasan dan dasar pikiran yang dikemukakan orang-orang di sekitarnya. Bonus yang besarlah, lebih diperhitungkan soal namalah, ketenaran, mobil, uang, uang, uang…

Sampai di situ pikiran Srini bertambah mumet. Ya, tawaran di depan hidung pun, kalau itu sudah menyangkut soal uang, pasti selalu memberikan rasa kepusingan yang semakin dipikir semakin memuncak. Uang tidak pernah tidak pasti selalu membawa buntut pengorbanan tertentu. Apalagi kini menyangkut sesuatu tawaran yang masih membimbangkannya. Pilihan yang menuntut sesuatu yang sekarang ini secara tiba-tiba, entah darimana dan bagaimana datangnya, digayuti pikiran yang macam-macam. Srini menjadi bertanya pula tentang datangnya keraguan yang tidak biasanya, "Mengapa juga hari ini aku didatangi pikiran bahwa batas adegan inilah yang dapat dan tidak dapat kumainkan? Apakah aku telah sampai pada pangkal kesadaran? Kesadaran macam apa?" Srini sadar betul bahwa ia memang malas untuk melakukan adegan yang dibisikkan tadi dan kini ia pusing betulan.

"Bagaimana," entah berpikir apa sang sutradara melihat sinar mata Srini yang semakin redup, yang pasti ia merasa tawarannya akan segera mendapatkan persetujuan. "Mau kan, Srin!"

Sebetulnya dengan adegan tadi, yang ia coba mainkan dengan sebaik mungkin, Srini merasa dicopot seluruh lapisan kulit dari tubuhnya. Coba dibayangkan saja, adegan seorang tante kesepian yang bermasturbasi, dengan tubuh yang hanya beberapa bagian saja dilekati penutup-penutup kecil, ditonton beberapa pasang mata. Belum lagi nanti kalau film ini sampai ke pasaran umum, akan seperti apakah cercaan umum, terutama lewat media massa terhadap keberanian aktingnya. Sekarang, lewat bisikannya tadi, sang sutradara meminta ia melakukan adegan itu dengan tambahan-tambahan pose dan kelakuan yang mungkin hanya orang-orang yang punya kecenderungan sex-pathologislah yang bisa sampai memikirkannya.

Srini memandang mata sang sutradara. Kecil dan redup, tetapi dengan sinar mata yang lincah. Persis mata buaya, pikirnya. Tetapi selalu saja Srini merasa bahwa mata itu mengharapkan sekali belas kasihnya. Ia tahu bahwa tanpa adegan-adegan begituan, produksi-produksi film akan hanya menghambur-hamburkan uang. Dan dari sinar mata sang sutradara ini ia tak menemukan alasan untuk percaya bahwa mata itu punya maksud yang semata-mata pribadi. Misalnya sang sutradara memang nakal untuk menikmati akting-akting yang berlebihan, sehingga ia menuntut para bintangnya melakukan hal tersebut. Tidak. Semata-mata ia berpikir dalam cakupan yang lebih besar dari kegemaran-kegemaran pribadinya yang mungkin sakit. "Mengapa aku pun tidak berpikir dalam kerangka seperti itu?" Srini kembali bimbang.

Dilihat dari kehidupan pribadinya pun, Srini sudah tentu merupakan orang yang butuh sekali uang. Ia bukanlah orang yang bisa mendadak menjadi sederhana, padahal tawaran main film tahun-tahun terakhir ini betul-betul di tingkat minimal. Jadi kalau dari segi frekuensi tidak bisa diharapkan, jalan keluarnya adalah besarnya uang yang dapat diterima dari setiap kali main. Tak ada jalan keluar lain.

"Siap, Oom!" sambil menghela nafas Srini menjawab.

***

Setelah membereskan apa yang perlu, dan semua pihak bersiap dengan apa yang harus dikerjakannya, terdengarlah suara sang sutradara di kamar itu, "Siap semuaaa, akting!"

"…euah…euah…euah…" Srini mendesah-desah. Kegelisahan yang cabul. Harapan yang ingin terpuaskan. Keringat yang tiba-tiba muncul. Sebuah akting yang benar-benar sempurna.

Jauh di lubuk hatinya Srini gelisah sendiri dengan kehidupannya, dengan kehidupan Ayu, dengan kehidupan mereka berdua di masa depannya. Ada harapan yang lebih baik ternyata dari kebimbangannya tadi bahwa akting yang sedang dimainkannya adalah aktingnya yang terakhir. Dengan uang yang akan diterimanya nanti ia akan berganti profesi. Walaupun belum terpikir apa, tetapi sepertinya ia telah dibukakan pintu lebar-lebar yang mempersilakannya untuk memilih. Keringatnya menderas. Sebuah jalan yang memberikannya semoga.

"…euah…euah…euah

~Peri Umar Farouk, YK

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.