Oh My Love (Terilham Tombo Ati Mario Teguh)

OH MY LOVE
Song by John Lennon
Commented by Peri Umar Farouk

Oh my love for the first
time in my life,
My eyes are wide open.

Mata yang terbuka, belum tentu ‘terbuka’.

Oh my love for the first
time in my life,
My eyes can see.

Mata yang melihat, belum tentu ‘melihat’.

Maka demi membuka dan mampu melihatnya mata kita,
ada tiga kemampuan yang harus diolah:

I see the wind,
Oh, I see the trees.
Every thing is clear in my heart.

Yang pertama adalah:
Perhatikan pengaruh dari yang tak kasatmata
dalam benda dan kejadian yang kasatmata.

Melihatlah sebagaimana kita percaya
bahwa angin sedang bekerja,
ketika melihat pohonan yang bergoyang.

Mental, rasa, dan bahasa adalah energi tak kasatmata.
Untuk menjaganya dalam kebaikan,
maka lihatlah pengaruhnya pada diri kita sendiri.
Lihatlah pada orang-orang yang berhubungan dengan kita.
Apakah energi itu mengembangkan atau mengempiskan?
Memberdayakan atau menghambat?
Memicu atau melumpuhkan?

I see the clouds,
Oh, I see the sky.
Everything is clear in our world.

Yang kedua:
Melihat bahwa dibalik segala sesuatu yang sementara
ada sesuatu yang lebih abadi.

Yang sementara kadang menutup penglihatan kita
dari yang lebih abadi itu.
Lihatlah bahwa awan akan segera bergeser
dan memperlihatkan langit,
sesuatu yang lebih jauh, namun lebih anggun dan pasti.

Tuhan, serta kekuatan-kekuatannya berupa kasih, bahagia, damai
senantiasa ada untuk disingkapkan.
Orang yang tak menemukan Tuhan,
orang yang amarah, yang nestapa dan rusuh
adalah orang yang lupa atau enggan
menyingkapkan keberadaan itu.

Seperti kisah berikut:
Seorang pencari menemui seorang guru.
“Tuan guru sering bilang bahwa setiap orang bisa hidup dengan penuh cinta.
Saya tidak yakin. Apa tuan guru punya bukti?” tanyanya.

Sang guru tidak menjawab, malah balik bertanya,
“Kamu tahu apa itu ayakan? Atau saringan?”

“Tentu!” jawab si murid mantap.

“Sekarang pulanglah!
Kembalilah ketika kamu sudah mampu mengisi sebuah ayakan dengan penuh air.”
Pesan sang guru.

Selang beberapa minggu, si murid kembali.
Meski gagal dengan berbagai percobaannya, namun ia tampak bersemangat.

“Seperti sudah saya duga.
Bagaimana pun cara saya mengisi ayakan dengan air,
hasilnya pasti sia-sia.” Ujarnya.

Sang guru kemudian mengajaknya ke pinggiran danau.
Di sana ia lemparkan ayakan ke tengah-tengahnya.

“Masih tidak percaya bahwa ayakan itu bisa penuh dengan air?”
tanyanya.

Lalu melanjutkan:
“Hati dengan keraguan layaknya seperti ayakan,
bolong di sekujur tubuhnya.
Tidak akan menampung apapun yang diberikan kepadanya.
Apalagi materi halus lembut semacam cinta, kebajikan bahkan keilahian.
Maka jalan paling pasti untuk dipenuhi
adalah cemplungkan dirimu ke Lautan Energi itu!”

Oh my love for the first
time in my life,
My mind is wide open.

Oh my lover for the first
time in my life,
My mind can feel.

Pikiran harus diberi perspektif untuk menerima yang benar.
Untuk merasakan yang seharusnya dirasakan.

I feel the sorrow,
Oh, I feel dreams.
Everything is clear in my heart.

Terakhir:
Semua kejadian,
bahkan yang duka, yang buruk, yang pedih
selalu mengandung harapan.

Maka sesungguhnya dibalik setiap kesulitan ada kemudahan.
Sekali lagi: Sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan.
Seperti duka cita yang akan purna menjadi mimpi-mimpi penuh bunga.

I feel life,
Oh, I feel love.
Everything is clear in our world.

Bila kita hidup, maka seharusnya hadir.
Bila kita hadir dalam hidup, maka seharusnya bisa merasakan cinta.
Dengan cinta, semua kegelisahan dan dosa pupus.
Karena tak ada ruang bagi kalbu yang berisi Tuhan
-Yang Maha Cinta itu-
luang untuk ketidakbaikan.

Dan tak ada yang Tuhan ciptakan
sia-sia!

(Peri Umar Farouk, 05012009)

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.