Menjadi Nabi

Ctrl-Alt-Del oleh Peri Umar Farouk

“Aku ingin membahagiakan
anak di hari raya…”

Setiap pagi sebelum menyapa Farrel, anak bungsu yang baru bangun, saya mesti melihat dulu gerak-geriknya. Sapaan yang keliru akan menyebabkan dia bad mood seharian. Judes, susah makan dan tak mau pergi ke Taman Bermainnya. Dan yang paling khas ucapannya: “Aku males sama ayah!” Lucu tapi cukup merepotkan. Bayangkan saya harus menguasai informasi dan perilaku, menjadi siapakah dia di hari ini? Kadang-kadang dia itu Eng, tokoh Avatar. Kalau saya sapa, “Selamat pagi Naruto!” Langsung cemberut, “Aku bukan Naruto! Aku males sama ayah!” Besoknya ternyata berubah jadi Spiderman. Dan berulang-ulang memberi teka-teki: Kambing apa yang bisa merayap di dinding? Jawabnya Sapidermen. Nggak nyambung kan, seharusnya pertanyaannya sapi apa. Malamnya nonton Transformer, Farrel berubah jadi robot. Saya bingung, karena nama robotnya banyak. Rahasianya, anak-anak tak mungkin memilih jadi tokoh jahat. Maka saya bilang: “Aku Megatron, pemimpin para Deception!” Alhamdulillah dia langsung semangat dan membocorkan jati dirinya: “Aku si Robot Biru, Prime Optimus!” Satu hari pun terselamatkan.

Namun demikian saya masih tetap bersyukur, karena belum ada anak saya yang mengaku menjadi nabi…

Tetapi masih. Beberapa orang di antara kita mengaku sebagai makhluk-makhluk suci, malaikat atau seorang nabi. Bahkan bisa berganti-ganti menjadi Jibril atau Maria, dan mampu menunjuk bahwa si anu adalah rasul, jelmaan al-Masih atau reinkarnasi Muhammad. Tiba-tiba saja seorang perangkai bunga menjadi permaisuri kerajaan tuhan. Tiba-tiba seorang peternak lele dumbo, mementahkan konsep khotamun nabiyyin. Dan masih. Segelintir bahkan ribuan orang mempercayai pengakuan itu.

Apa yang terjadi sesungguhnya? Yang jelas salah satunya adalah ada yang hilang dari pembelajaran kita, misalnya tentang kenabian. Ya, kenabian dengan latar belakang serta konsekuensinya yang wajar, kontekstual dan memanusia.

Masyarakat telah terlalu menjauhkan nabi dari keseharian. Nabi sebagai perwakilan komplit untuk kesadaran tinggi mengenai religi dan spiritualitas di dalam kehidupan dunia ini, kemudian menjadi sangat mistik bahkan adiduniawi. Nabi kita persepsi tidak ubahnya tukang-tukang sihir namun dengan nada positif. Nabi akhirnya tidak lain adalah ‘tukang sihir kanan’: ada di pihak Tuhan versus Iblis, mewakili cahaya murni melawan angkara api, yang doanya sanggup menindas mantra, yang ilmunya tidak hitam melainkan putih tak ternoda.

Cerita kenabian yang dihadiahkan kepada kita adalah keluarbiasaan yang dicerabut dari tanah aslinya, sehingga laksana hujan, kenabian datang tiba-tiba sebagai jawaban langit atas berbagai kerusakan di bumi. Ciri kenabian pun menjadi tidak lain tidak bukan adalah soal mukjizat. Adam tak berayah-ibu. Nuh si pembuat bahtera raksasa. Ibrahim yang tak mempan dibakar. Yusuf yang paranormal peramal mimpi. Musa yang tongkatnya bisa menjadi ular dan membelah laut. Sulaiman yang cakap berbincang dengan binatang, mendahului tokoh Dr. Doolitle. Yunus menjadi mirip pinokio di dalam perut ikan. Zakaria yang bisa mengisi pori-pori sebatang pohon. Isa yang tangannya bisa mendatangkan madu dan roti, sekaligus penyembuh dan penghidup orang mati. Muhammad yang dadanya dibelah malaikat, yang ke manapun dinaungi awan, dan seorang turis ilahiah yang berjalan dari Mekkah ke Palestina, kemudian melesat ke semua langit dan kembali hanya dalam satu malam.

Dan malasnya kita sebagai makmum senantiasa pasrah dan tertib: cukup percaya saja! Enggan menggali arkeologi pengetahuan lebih dalam, sehingga bisa mengikatkan amal kita pada amsal (perumpamaan) itu. Selamanya kita mencerna dengan guilty feeling, bahwa besarnya keimanan sebanding dengan lebarnya keikhlasan untuk menerima yang tak masuk akal. Setelahnya sedikit demi sedikit kita meremehkan daya hidup dari khasanah kesadaran dan reformatif kenabian. Cerita kenabian tak ubah laksana rombongan penghibur pasar malam penuh akrobat, yang lewat begitu saja, menghapus keingintahuan masa kecil.

Tentu sebenarnya tidak. Nabi adalah sosok yang hidup dalam konteks, cerdas dan sangat berani. Dalam tradisi Islam dikenal para pemuka di antara banyak nabi (‘ulul ajmi), yang sifat berpikir serta bertindaknya begitu revolusioner. Keunggulannya terletak pada seberapa dahsyat daya ubah bagi konteks kehidupan masyarakatnya. Nabi adalah reference yang terlibat dengan keseharian pikiran, perilaku serta kebijakan kaumnya. Dan terutama kaum tertindas, rakyat teraniaya atau golongan yang disepelekan keadilan. Artinya seorang nabi adalah belum-belum sudah merupakan para aktivis, para pekerja yang giat dalam transformasi kemasyarakatan ini. Sebuah penanda kemunculan abad baru, yang tahan kemudian jadi gairah sebuah peradaban.

Dan mukjizat? Sebuah keterangan menyimpulkan bahwa mukjizat diberikan Tuhan bukan sebagai bakat, bukan sebagai sesuatu yang bisa berlangsung atas kemauan para nabi itu sendiri. Ia hanya bisa hadir pada satu saat tertentu yang memang dikehendaki Tuhan. Ibrahim tidak selamanya tahan dibakar. Yusuf tak selamanya mampu meramal mimpi, bahkan untuk nasib dirinya ketika difitnah melakukan affair dengan sang Ratu. Musa tak semau-maunya bicara langsung dengan Tuhan, mengubah tongkat menjadi ular, dan mempermainkan lautan. Isa bahkan tak kuasa di tiang salib dan memohon untuk tidak ditinggalkan Tuhan: eli, eli, lamma sabakhtani. Mukjizat bukan sebuah keterampilan pokok profesi nabi. Muhammad kerap menampik permintaan orang-orang bodoh quraisy demi membuktikan kenabiannya dengan mempertontonkan mukjizat, dan tanpa geming: aku tidak lain diutus hanya sebagai jurnalis, penyampai berita dan pemberi peringatan.

Maka soal kenabian bukanlah soal mudah. Tidak hanya soal menerima mimpi aneh, kehendak obsesif, keserentakan inspirasi atau kecerdasan intuitif. Ia sebuah firman dan gerak sekalian. Ia belajar, melakoni dan terjun ke tengah-tengah perjuangan berkeringat serta berbahaya yang namanya kemanusiaan. Ada jeda waktu, bila membaca kisah-kisah kenabian dengan seksama, antara seseorang mulai aktif dalam pencerahan dan klaimnya sebagai nabi. Musa tak mungkin dikejar-kejar Fir’aun, bila tak membawa firman dan gerak menegakkan keadilan, hak-hak minoritas Bani Israil dan penghapusan budak. Yesus tak mungkin dibenci sehabis-habisnya, sampai kekuasaan kala itu menghukum salib laksana memperlakukan pencuri kambuhan, bilamana tidak ada firman dan gerak revolusioner yang mengganggu kenyamanan para despotis itu.

Ada 15 tahun dari Muhammad yang sering lewat dari penceritaan tentangnya. Yakni waktu usia beliau saat menikah, 25 tahun, sampai usia beliau pertama kali menerima wahyu, 40 tahun. Rentang waktu itulah yang seharusnya lebih dominan mewarnai sejarah Muhammad, karena itulah waktu penggemblengan. Kawah candradimuka, sehingga beliau masuk akal mendapatkan pencerahan puncak shidratul muntaha, yang menjadikannya manusia sensitif dan pengambilan keputusannya bisa menembus ruang waktu. Muhammad sempurna, karena ia menghayati dan terlibat. Muhammad utuh, karena ia manusia yang berpengaruh (insan kamil). Alih-alih menjadi mistikus diam yang total merenung di gua-gua, selama 15 tahun Muhammad terjun sebagai aktivis dengan membawa bendera liga orang-orang tulus (hilf al fudhul). Bersama liga itulah pertama-tama Muhammad mencengkeramkan penentangannya pada konglomerasi bangsawan Mekkah, kenaifan prinsip-prinsip jahiliyah yang sarat perbudakan dan ketidakadilan kepada perempuan, yang berjalin mutualisma dengan penghambaan keberhalaan serta kesesatan dari ketuhanan Allah yang satu.

Singkat kata, kenabian adalah gagasan besar menegakkan keadilan serta perjuangan dengan darah dan daging bagi perwujudannya. Bila kriteria ini terang di setiap benak, siapatah lagi yang gampang mengaku-ngaku sebagai nabi…

Satu tip sebagai penutup, bila pun ingin menjadi orang lain, kenapa orang-orang tak mau jadi Nasruddin Khoja. Orang saleh yang hidup biasa, yang bergelut dengan keseharian namun selalu mawas, yang filosofinya sangat jenaka tetapi dalam, dan membaktikan semacam ayat: dunia ini tak lain hanya senda gurau belaka. Atau seperti Santa Klaus. Orang tua yang tak rajin bercukur tetapi bersih, yang pakaiannya merah dengan model badut tetapi memang menghibur, yang datang tak diundang dan pergi tak disuruh, yang kredonya sederhana: “… aku ingin membahagiakan anak-anak di hari raya!” Dengan apa? Bukan dengan kepercayaan yang jelimet, bukan kerumitan ritual, bukan teologi spekulatif yang bertele-tele, atau praktek-praktek yang menyepelekan hidup dan nyawa. “Aku ingin membahagiakan anak-anak di hari raya… dengan ‘memberi mereka mainan’!” Ho-ho-ho.

Kalau ingin sedikit rumit, jadi sajalah seperti Rumi. Bersedekah dengan puisi, dan menari-nari: maa khalaqta haadzaa bathiila. Tak ada yang Allah ciptakan sia-sia…

Untuk Farrel dan anak-anak lain, kalian boleh menjadi siapa saja, asal tak membikin pusing orang tua…

~Malam Jogjakarta, 31-12-2007

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.