MT Space #7: JEDA

Apakah kau cukup sabar menanti
sampai pikiranmu tenang
dan air menjadi jernih?

Tahankah kau tetap tak bergerak
sampai tindakan yang benar datang
dengan sendirinya?
~Dhammapada

Mungkin agak sulit menemukan orang yang diberi nama Jeda. Berbeda halnya dengan nama-nama dari kombinasi huruf J dan D lainnya, seperti: Jada, Jadu, Jade, Jidi, Juda, Judi, Judo, Jedi, Joda, atau Jodi. Mungkin inilah bawah sadar kita yang sengaja tak sengaja kurang menghargai arti serta konsekuensi dari sebuah ‘Jeda’.

Buku Tesaurus Bahasa Indonesia yang tebal, hanya menyebutkan padanan ringkas kata Jeda sebagai: henti, pause, interval, rumpang, sela, selang sebentar, istirahat, reses dan waktu rehat. Lebih mending Kamus Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar yang agak panjang mengartikannya sebagai ‘waktu berhenti sebentar’.

Adalah Stephen R Covey yang memperbarui pengertian kita tentang pentingnya sebuah jeda. Dalam masterpiece-nya “the 7 Habits of Highly Effective People’, Tuan Covey menetapkan jeda yang mesti ada di antara formasi Stimulus-Respon, bila orang ingin beranjak dari status makhluk reaktif menjadi pribadi proaktif. Demi keefektifan, Stimulus wajib diberhentikan di halte ‘Kebebasan Untuk Memilih’, sehingga memiliki ruang-waktu berbagi rasa dengan khasanah kebaikan seseorang yang secara umum disebut sebagai: kesadaran diri, imajinasi, suara hati atau kehendak bebas. Dengan menjeda, stimulus negatif berpotensi menjadi respon positif. Dengan menjeda, kenyataan yang bikin frustasi berpotensi menjadi sumber yang memberdayakan. Dengan menjeda, cuaca yang membekukan berpotensi menjadi musim yang mencairkan. Dengan menjeda, akhirnya bahkan kegagalan pun, akan menjadi umpan balik.

Sebagai contoh, saya jadi teringat situs littlemissmatched.com. Kebanyakan dari kita mungkin sudah tak memikirkan potensi lain dari kaos kaki. Selalu berpasangan, dengan warna yang wajib sama, dan pasti dijual dalam jumlah yang genap, dua perdua. Perusahaan dengan tagline ‘Are you a LittleMissMatched?’ ini menjeda prinsip-prinsip yang seolah tak bisa dilanggar itu. Dan produknya yang terobosan adalah kaos kaki yang masing-masing berbeda corak dan warna serta dijual dengan jumlah ganjil, minimal tiga. Menakjubkan, dengan membeli satu pak (isi tiga buah), pembeli siap memakai tiga kombinasi corak dan warna.

Kepentingan terhadap jeda yang dikukuhkan Covey, ternyata bukan hanya sebagai cakrawala demi mengasah kebiasaan yang pertama tadi, Proaktivitas. Jeda juga bisa kita lihat dalam kaitannya dengan kebiasaan ke-7 pribadi yang berdaya guna, yakni Mengasah Gergaji. Gergaji, meski dibuat dari baja terkuat sekalipun, bila dipakai terus menerus tanpa rehat untuk diperiksa ketajamannya, pasti terkena hukum alam ketumpulan. Kendaraan yang dipakai tanpa henti, niscaya akan kehabisan bahan bakar, lalu mogok. Maka jeda diperlukan, bukan untuk menunda atau bermalasan, melainkan demi mengalur samurai kepribadian kita. Jangan-jangan bengkok, sehingga tak masuk lagi ke dalam sarung visi yang kita canangkan dengan sangat rapih dan megah. Jangan-jangan rompang sana-sini, sehingga nilainya tidak lebih baik dari sebuah pisau dapur. Jangan-jangan berkarat, sehingga tidak mengkilatkan kecemerlangan yang menggentarkan para pesaing.

Manusia adalah makhluk yang membutuhkan keseimbangan fisik, mental, sosial dan spiritual. Kekurangan atau kehilangan satu di antaranya, berarti berkarat satu perempat. Dan karat adalah jamur yang akan merambati sisa lainnya. Maka jangan biarkan. Mari memberi jeda hari-hari kita, sehingga tubuh mendapatkan keadilannya untuk bugar. Mental diberi pasokan bacaan, tontonan serta tuntunan yang baik. Rengkuhan tangan kita mengayomi keluarga, serta senantiasa siap menyambut persahabatan. Hati kita bercengkerama doa kepada Yang Maha Tinggi, dan langkah-langkah kita ramah kepada alam semesta. Tak ada kecualinya untuk membiasakan jeda. Dengan kalimat lain Santo Francis de Sales pernah berujar: “Setengah jam meditasi setiap hari itu penting –kecuali ketika Anda sangat sibuk. Maka saat itu dibutuhkan satu jam penuh.” Ketika kita merasa tidak ada waktu untuk berjeda, maka sesungguhnya kita memerlukannya dua kali lipat.

Mario Teguh, yang dalam berbagai kesempatan adalah sang penawar jeda, memiliki kalimat yang seolah merangkum kepentingan akan jeda sebagaimana diutarakan di atas. Kutipan sederhana namun melapangkan dada itu menasehatkan sebagai berikut:

Bila Anda sedang merasa terjebak dalam sebuah lubang,
berhentilah menggali.

Kenalilah suasana hati Anda, lebih dahulu;
sebelum Anda memutuskan penilaian buruk
pada apa pun yang sedang Anda alami.
Karena, hal yang sedang Anda keluhkan itu,
bisa saja adalah hal yang sama
yang sedang dialami oleh seorang lain
yang sedang cemerlang dalam karir dan hidupnya.

(Drowning in a Glass of Water, Mario Teguh)

Akhir kata, dengan sebuah apostrof dan sebuah spasi: Impossible menjadi I’m_possible. Kata acuh dan membelenggu ‘nowhere’, yang dihadiahi satu saja jeda, menghidangkan kepada kita kehadiran dan kepenuhan ‘now_here’. Maka dengan menjeda, apapun bisa digenggam kapanpun dan di manapun kita berada. Ucapkan selamat tinggal pada keyakinan bahwa “love, peace & prosperity is nowhere”.

Masa kini dan masa depan kita, jadinya sebuah karnaval berspanduk “LOVE, PEACE & PROSPERITY IS NOW HERE”. [PUF,001108]

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.