Dialektika Ilmu & Transformasi Sosial Keagamaan

(Esei Peri Umar Farouk)

Agama merupakan suatu visi tentang sesuatu yang ada diatas, dibalik, dan di dalam hal-hal yang senantiasa berubah atau bersifat sementara ini; sesuatu yang nyata, tetapi tetap menunggu untuk dinyatakan;… sesuatu yang merupakan kemungkinan yang masih jauh, tetapi sekaligus juga merupakan kenyataan besar yang sudah terwujud sekarang ini; sesuatu yang memberi makna kepada segala Sesutu yang berlalu, namun juga sesuatu yang selalu lepas dari pengertian; Sesutu yang bila dimiliki merupakan harta terakhir yang tak ternilai, tetapi juga sesuatu yang selalu mengatasi segala usaha untuk menggapai; sesuatu yang merupakan ideal tertinggi yang pantas dicita-citakan, tetapi sekaligus juga sesuatu yang mengatasi segala dambaan… (Alfred North Whitehead)

Menurut futurolog dari Indonesia, yaitu Dr.Soedjatmoko, masa-masa mendatang merupakan masa kebangkitan spiritualisme dimana agama-agama akan mendapatkan peran yang semakin besar dalam perikehidupan manusia. Proyeksi ini boleh jadi merupakan angina segar bagi agama-agama, tetapi juga dapat menjadi angin yang menyesakkan, karena beberapa hal yang menyangkut keberadaan agama-agama sekarang ini. Yang terutama perlu diperhatikan adalah masalah kesiapan agama-agama itu sendiri dalam merespon secara cepat namun tepat fenomena kebangkitan spiritualisme manusia dan masyarakat modern, yang sudah tentu berbeda dibandingkan dengan kebutuhan spiritualistis masyarakat pra-modern. Dengan lain kalimat dapat disebutkan permasalahan ini, yaitu: Mampukan agama-agama memenuhi tuntutan perikehidupan manusia dan masyarakat dijaman modern ini? Pertanyaan ini sebagai garis bawah bagi hipotesis Dr.soedjatmoko yang dituliskan dalam makalahnay yang berjudul “Agama dan Tantangan Zaman”, yaitu bahwa suatu agama yang tidak bicara kepada masalah moril pokok zamannya akan menghadapi bahaya, iya berangsur angsur akan menjadi irrelevant (Soedjatmoko, Agenda permasalahan Abad 21, 1993)

Permasalahan-permasalahan pokok

Sebagai mainstream dari jaman modern yang telah dan sedang berlangsung terus menggejala mempengaruhi seluruh segi kehidupan manusia dan masyarakat adalah rasionalisme dan materialisme. Dalam kaitan ini tidak dapat dibedakan antara apa yang dikenal sebagai kapitalisme-komunistik yang dipercaya merupakan paham-paham yang membelah dunia menjadi dua secara berlawanan, karena pada hakekatnya kedua paham tersebut lahir dari rahim yang sama, yaitu materialisme-rasionalisme yang disebutkan tadi. Paham materialistis dan rasionalistis mempunyai alat yang ampuh sebagai juru penerang kenyataan-kenyataan fenomenal alam dan kehidupan manusia, yang pada gilirannya mampu mengikis bahkan meniadakan peran media lain yang secar historis dipergunakan oleh manusia seperti mitologi-mitologi dan agama. Alat ampuh tersebut adalah sains dan teknologi.

Tetapi tanpa diduga sebelumnya penaklukan secara membabi buta terhadap alam oleh manusia dengan bantuan kehebatan sains dan teknologi berbalik menjadi penaklukan manusia terhadap kehidupannya sendiri. Sains dan teknologi yang mulanya diharapkan menjadi senjata ampuh untuk menguak misteri keberadaan manusia sedikit demi sedikit berubah menjadi boomerang yang memotong dan memisahkan manusia dari kemanusiannya yang utuh. Ia menurut seorang filsuf Madzhab Frankfurt, Herbert Marcuse, tinggal menjadi manusia satu dimensi, mahkluk yang kehilangan bagian-bagian dirinya yang paling luhur. Dan lebih parah lagi, sisa keberadaannya itu menjadi bulan-bulanan permainan benda-bendabuatanya sendiri (hasil-hasil sains dan teknologi), yang mendiktekan sebuah kehidupan yang absurd, kehidupan tanpa nilai dan tujuan yang jelas.

Fenomena tersebut pada hakekatnya tidak berbeda dengan kehidupan pemberhalaan. Kehidupan seperti ini menyeret manusia ke alam perbudakan bagi dirinya sendiri. Dan pada tingkatnya yang paling parah, manusia menjadi penyembahdan mendewakan hasil kreasinya sendiri. Secara dramatis keadaan kehidupan pemberhalaan dan akibat-akibatnya yang menyengsarakan itu di gambarkan oleh Erich Fromm, psikonalis terkenal, dalam bukunya “The Sane Society”, yaitu:

Manusia telah menciptakan suatu dunia dari barang-barang buatan manusia yang tidak ada sebelumnya. Ia telah membangun permesinan sosial yang ruet untuk mengatur permesinan teknis yang ia bangun. Namun seluruh kreasinya itu tegak diatas dan mengatasi dirinya sebagai pencipta dan pusat, tapi juga sebagai budak sebuah berhala golem yang ia buat dengan tangannya sendiri. Semakin kuat dan besar kekuatan yang ia lepaskan, semakin ia merasa dirinyatak berdaya sebagai manusia. Ia menghadapi dirinya sendiri dengan kekuataan dirinya yang dikandung dalam benda-benda yang ia ciptakan, yang terasing dari dirinya sendiri. Ia dikuasai oleh kreasinya sendiri, dan telah kehilangan kekuasaan terhadap dirinya sendiri. Ia telah membuat sebuah patung anak sapi emas dan berkata: “…inilah dewamu yang membawa kamu keluar dari Mesir." (Nurcholis Madjid, Ulumul Quran vol iv no 1, 1993).

Kutukan terhadap pemberhalaan oleh manusia terhadap benda buatannya sendiri dalam kehidupan mikrokosmos adalah alienasi atau keterasingan pada diri pribadi. Keadaan seperti ini pada gilirannya membawa bahaya yang berlipat ganda, yang karenanya kehidupan semesta bisa terancam. Keterasingan merupakan kebuntuan dimana manusia kehilangan makna dan arah dalam hidupnya. Kebingungan manusia untuk mengerti kehidupan mikrokosmosnya seolah seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledakan seluruh kehidupan makrokosmos. Manusia pun tidak saja menjadi musuh bagi seluruh kehidupan di bumi.

Penderitaan yang paling parah menghinggapi manusia modern adalah krisis eksistensial. Kehebatan sains dan teknologi yang telah berhasil membebaskan manusia dari kesulitan-kesulitan fisikal hidup yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan biologisnya, ternyata terus di hantiu sebuah pertanyaan klise namun teramat menggoda, yaitu: Apakah manusia sudah cukup berbahagia?

Menara ilmu yang menjulang tinggi menggantung manusia yang membangunnya diatas ruang hampa dan hanya memberikan pandangan luas gurun tandus tanpa kesegaran. Menara itu membuat manusia dengan angkuh bertepuk dada, tetapi juga mengurungnya dalam pesimisme. Secara hipotesis, Dr.soedjatmoko menyebutkan bahwa tingkat kemajuan sains dan teknologi berbanding terbalik dengan kemampuan survival umat manusia. Beliau mencontohkan kehebatan teknologi militer, pada dasarnya dapat dilihat sebagai meningkatnya kemampuan basmi sekaligus kecepatan basmi dari persenjataan modern. Dengan demikian kemampuan survival umat manusia jadi terancam (soedjatmoko, op.cit).

Kemudian secara global, hasil-hasil sains dan teknologi yang berupa mesin-mesin mendikte manusia dalam memperlakukan alam lingkungannya. Hal ini pun membawa pengaruh yang tidak kecil terhadap makna eksistensial kehidupan manusia, karena dapat dimaklumi bahwa salah satu bagian kehidupan adalah dialog manusia dengan berbagai segi fenomenal alam. Kesalah yang terjadi disini adalah bahwa mesin-mesin yang dimaksudkan sebagai alat mengenal (memanfaatkan) berkembang menjadi yang mendiktekan tujuan-tujuan.

Ketidakterdugaan tersebut diatas selanjutnya membuahkan gelombang dahsat humanisme yang merusak alam dan tanpa samasekali bermuatan transendental. Keseimbangan dan kelestarian kehidupan semesta menjadi korban yang paling parah kondisi yang seperti itu. Pada akhirnya manusia menjadi tidak betah hidup dalam bangunan-bangunan fisik dan sistem sosial yang di rancang dan diciptakannya sendiri. Karena semuanya itu seperti telah disebutkan dimuka tidak memuaskan kerinduan eksestensial yang secara cukup dapat membahagiakan.

Sebagai makhluk yang tidak bisa bertahan lama membohongi dirinya sendiri, manusia untuk melengkapi pengertiannya secara utuh membutuhkan sentuhan-sentuhan lain selain sains dan teknologi. Sains dan teknologo hanya menyentuh sisi perikehidupan yang paling luar.

Secara historis sentuhan yang paling kuat terhadap fenomena kehidupan manusia, selain ilmu pengetahuan adalah agama. Hanya dapat disesalkan bahwa pada pernyataannya selama sekian waktu perjalanan sejarah, antara ilmu dan agama tidak bergerak dan berkembang secara damai saling memperlengkapi, bahkan cenderung ingin saling meniadakan. Manusia dalam hidupnya seolah-olah dipaksa memilih hanya salah satu diantara keduanya, ilmu atau agama.

Agama Yang Dituntut Manusia dan Masyarakat Modern

Bila kita melihat agama sebagai sebuah pemikiran yang secara historis sudah baku atau mapan (agama sebagai ideologi), kemudian dihubungkan dengan permasalahan-permasalahan pokok manusia dan masyarakat modern yang telah dikemukakan pada bab permasalahan-permasalahan pokok, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada satu pun agama yang telah cukup sempurna mampu menjawab atau memberikan jalan keluar bagi seluruh permasalahan yang ada atau diramalkan akan terjadi dalam masyarakat modern sekarang ini maupun masa yang akan datang. Asumsi seperti itu boleh jadi merupakan gugatan bagi paham-paham secara simplistis menyatakan bahwa agama adalah serba meliputi dan serba sempurna. Tetapi dengan beberapa dasar pikiran, tidak perlu hal tersebut diartikan sebagai pelecehan terhadap kebenaran kosep-konsep normatif agama. Dasar pikiran yang terutama untuk menjustifikasi gugatan diatas adalah bahwa pada tahap kontekstualisasinya konsep-konsep normatif agama sebagai simbol-simbol profetis (pewahyuan) memerlukan pemahama akal manusia samasekali terbatas, baik segi penerapan akal ini sendiri secara intrisik maupun berhubungan denga konteks ruang waktu kehidupan manusianya.

Konteks kehidupan kontemporer dan kemungkinan juga untuk masa-masa selanjutnya tidak dapat dan memang tidak perlu dilepaskan dari sains dan teknologi. Permasalahan-permasalahan yang timbul berhubungan dengan sains dan teknologi tidak boleh dimengerti bahwa sains dan teknologi samasekali tidak bermanfaat (mudharat) bagi kehidupan. Kita harus menganalisis kembali kesalahan-kesalahan kita dalam filosofi memperlakukan dan mempergunakan sains dan teknologi dalam kehidupan kita.

Berhubungan dengan pernyataan tersebut, maka agama dijaman modern dan masa depan harus mampu mengambil selain kebenaran-kebenaran sains dan teknologi dalam menjelaskan kenyataan-kenyataan, juga segi positif sifat kharismatik ilmu pengetahuan, yaitu sifat revolusioner dalam usaha menemukan kebenaran dan serba terbuka cara serta prosedurnya. Ilmu pengetahuan bisa dijadikan penjelasan-penjelasan bagi positive statement yang terkandung dalam konsep normatif agama (pernyataan-pernyataan tentang yang ada’atau aspek-aspek fenomenal dari alam dan kehidupan manusia).
Kemudian menyangkut faktor eksestensial kehidupan manusia, baik secara individual maupun sosialnya, agama harus mampu merekapitulasi kegagalan-kegagalan sikap hidup atau falsafah materialisme-rasionalisme dalam membahagiakan manusia dan untuk selanjutnya mampu memberikan alternatif-alternatif sebagai jawaban. Tanpa kemampuan ini agama hanya akan berfungsi sebagai obat pelarian semata (terapi simptomik), ditengok secara sepintas lalu ditinggalkan kembali.

Itulah sebagai pengantar bagi temapokok yang dimaksudkan untuk bab ini. Kini akan disebutkan secara umum kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh agama agar relevan dengan moral pokok jaman modern. Perlu diingatkan berkaitan dengan hal tersebut, bahwa disini tidak dimaksudkan sebagai mendiktekan keinginan-keinginan manusia terhadap agama, tetapi mengkerangkakan atau menempatkan agama sebagai pedoman abadi kehidupan manusia yang tentunya menampung segenap persoalan-persoalan moralitas yang telah, sedang dan akan ada atau terjadi sampai akhir jaman nanti.

Kriteria-kriteria tersebut dikutip dari pendapat filsuf Amerika Serikat, Alfred North Whitehead, yaitu seperti di bawah ini:

Agama yang mampu menjadi sumber visi dan motor perjuangan.

Pada kenyataannya karena terlalu menekankan fungsinya sebagai penjaga atau pengatur hidup moral, agama seringkali bukannya menjadi sumber visi kedepan dan motor perjuangan yang memberi keberanian untuk bertualang dan mengambil resiko, melainkan sebagai sumber kekolotan. Oleh karena itu kehidupan modern yang mempunyai semangat modernitas dan avonturisme tidak akan memberi nilai yang tinggi terhadap dogmatisme dan konservatisme.

Agama yang mampu memberikan rasa damai.

Dalam hal ini agama harus mampu menyediakan dasar yang memberikan jaminan bahwa perjuanganyang tidak kunjung habis untuk menyempurnakan hidup di dunia ini, tidaklah sia-sia. Seperti telah disinggung di muka bahwa penderitaan manusia modern adalah akibat krisis eksistensial yang berkaitan dengan ketiadaan makna kebahagiaan yang langgeng. Agama harus mampu menyediakan jawaban atas kerinduan eksistensial tersebut untuk bisa memberikan rasa damai. (J Sudarminta, Filsafat Proses, 1991)

Sebagai respon terhadap permasalahan dalam bab ini; bagaimana hubungan yang paling mungkin antara dua kekuatan umum yang amat mempengaruhi kehidupan manusia, ilmu pangatahuan dan agama, bab selanjutnya akan mencoba mempertimbangkan ide kuntowijoyo, yang menyatakan bahwa antara pandangan dunia (agama) dengan teori sosial (ilmu) terdapat hubungan. Teori-teori sosial menurutnya dibangun atas dasar paradigma (kuhn), skema konseptual (kant), ideology (marx), atau cagar bahasa atau Wittgenstein (kuntowijoyo, Paradidma Islam, 1991). Oleh karena itu ada kemungkinan untuk mengupayakan teori sosial alternative berdasarkan pandangan dunia Islam, yang disebutnya sebagai ilmu sosial profetis.

Hambatan Penerapan Konsep Normatif Islam

Ada suatu hipotesis yang menyatakan, bahwa konsep teoritis ilmu pada perkembangannya dapat menjelma menjadi ideology. Ideology di sini dalam pengertiannya yang paling longgar, yaitu prinsip yang mendasari tingkah laku seseorang atau suatu bangsa didalam kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan. Oleh karena itu kebalikan dari fenomena tersebut mungkin terjadi; konsep normatif Islam (yang merupakan ideologi) dapat ditransformasikan menjadi teori-teori.

Dasar ontologis Islam adalah kehidupan, obyek atau tema maha besar yang menampung sekaligus hal-hal dan kejadian-kejadian yang fenomenal dan ajaib. Jadi tidak melulu memperhatikan yang terindera, tetapi jugayang transendental. Sedangkan ilmu berobyek hal atau kejadian-kejadian yang bersifat empiris, yang terindera semata. Dari kondisi tersebut tersirat keharusan mengobyektifikasi wilayah transformasi apabila konsep normatif Islam hendak ditransformasikan menjadi teori-teori. Hanya yang fenomenal yang secara relative dapat ditransformasikan. Yang transendental di luar jangkauan ilmu.

Secara kronologis, pertanyaan yang pertama kali perlu kita jawab berhubungan dengan bagaimana menerapkan konsep normatif Islam adalah mengapa konsep normatif Islam elum juga bisa diterapkan?

Ada banyak jawaban bagi pertanyaan tersebut. Yang pada akhirnya berujung pada fenomena stagnasi atau kemandegan yang menimpa kehidupan beragama. Ini terungkap, misalnya dari sikap konservatisme dan sikap defensif kaum agamawan dalam menghadapi perubahan-perubahan masyarakat yang di akibatkan oleh perkembangan sains dan teknologi. Berhubung demikian konsep normatif Islam dalam pengartiannya sebagai upaya-upaya dan hasil-hasil historis (klasik maupun kontemporer) dari ijtihadz menjadi tidak kontekstual, membuat kehidupan individual dan sosial manusia (Muslim) kontemporer menjadi arena perebutan pengaruh antara kemajuan dan modernitas, yang diklaim sebagai hasil gemilang rasionalisme dan materialisme, dengan konservatisme dan absolutisme dogmatis, yang dituduhkan dan pada kenyataannya memang benar merupakan sikap dan perjuangan sebagai besar pemikir atau tokoh-tokoh agama. Yang satu menyuruh manusia hidup di hari ini dan masa depannya, yang terakhir seolah-olah menyuruh manusia hidup kemasa lalu, yang satu sains dan teknologi, yang lain moralitas dan dogma-dogma. Yang satu sosialisme-materialisme, yang lain individualisme-agama.

Dari kondisi dan gajala itulah sebetulnya terjadi dikotomo mutlak ilmu dan agama dalam kehidupan kontemporer, yang kelanjutan logisnya menimbulkan apa yang terkenal dengan: sekularisme. Agama menjadi spasial, terpisah dari unsure-unsur kehidupan sosial dan kenegaraan.

Hal seperti itu sebetulnya tidak harus berpengaruh banyak terhadap Islam, selain fenomena tersebut merupakan khas response Barat (Negara-negara Eropa) terhadapnya sejarahnya yang setelah munculnya rasionalisme merupakan saat-saat pertarunagn hebat antara dua ekstrimitas; gereja dan materialisme, yang kedua-duanya pada tingkat arogansinya ingin saling meniadakan. Juga etiket keilmuan dan modernitas telah melekat pada kehidupan sosiologis Islam dari sejak awal keberadaannya. Ilmu adalah Islam, jika merupakan avonturisme dalam wilayah fenomenal untuk mencapai tauhid (Meng-Esakan Tuhan). Islam tanpa ilmu adalah Islam yang tereduksi menjadi sekedar agama, padahal Islam adalah cara hidup total mencakup agamawi dan duniawi. Oleh karena itu pemahaman secara filosofis dalam pengertiannya yang paling kasar, menurut Alija’Ali Ijetbegovic dalam bukunya “Membangun Jalan Tengah: Islam antara Barat dan Timur”, Islam adalah materialisme dalam persfektif umum agama dan adalah agama dalam persfektif materialisme. Islam adalah jalan tengah, jalan keseimbangan. Keseimbangan itu tergambar dalam keseluruhannya. Yang paling sempurna di contohkan dalam shalat, ibadah yang tidak melulu rohani, tetapi mewajibkan terpenuhinya aspek-aspek duniawi. Tidak ada shalat tanpa kebersihan fisik (wudlu) dan gerakan-gerakan fisik (sebagai rukun shalat). Ada ilustrasi sederhana namun menarik tentang ini, yaitu pengalaman Leopold Weiss, setelah masuk Islam bernama Muhammad Asad. Ketika melihat kaum muslimin shalat berjamaah di suatu desa di Afganistan, ia bertanya kepada Imam desa itu:

“Apakah Tuan sesungguhnya percaya bahwa Tuhan menghendaki supaya Tuan-tuan memperlihatkan kehormatan kepadaNYA dengan berulang-ulang ruku’ dan sujud kepadaNYA? Tidak kah lebih baik apabila hanya melihat kedalam hati dan menyembahNYA secara diam-diam?”

Imam desa itu menjawab, “Betapa pula kami harus menyembah Tuhan? Bukankah DIA menciptakan manusia dalam bentuk jasmani dan ruhani? Dan karena itu, tidak patutkah orang menyembah DIA dengan ruhani dan jasmani pula?"(M.Hashem, Islam rasional, 1991).

Kembali ke tema pertanyaan di atas, konsep normatif Islam karena merupakan ideology mempunyai unsure-unsur utama atau cirri-ciri pokok mengandung usahamengarahkan masyarakat untuk menerima secara yakin perangkap paham serta rencana kerja yang diturunkan dari perangkat paham tersebut dan ada usaha untuk menjangkau lapisan masyarakat seluas mungkin, maka diperlukan tafsiran dan penjelasan-penjelasan. Penjelasan-penjelasan yang menyangkut wilayah fenomenal sangat relevan dengan pemakaian konsep-konsep teoritis ilmu. Dasar pembenarannya ialah bahwa berfikir secara keilmuan mengandung maksud menghilangkan cara-cara berpikir mitis, superstition (percaya takhyul-tahyul) dan mitologis atau dogma-dogma artifisial, yang kesemuanya itu wajib dihindari dalam etika berfikir monoteistik.

Perlu dipahami juga ilmu disini adalah pada tahapnya sebagai proses yang tiada henti (unfinished project).

Karena apabila ilmu itu dipahami sebagai hasil akhir, akan menimbulkan kecenderungan bahwa konsep normatif Islam dapat diragukan kebenaran absolutnya. Suatu konsep teoritis ilmu tidak boleh secara ketat dijadikan tafsiran atau penjelasan yang mutlak dan komprehensif dari nash atau hadist. Dalam Al-Quran surat al-Alaq 6-7, tuhan berfirman: Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melapaui batas, karena melihat dirinya serba cukup.
Ilmu pada tahapnya sebagai hasil mengandaikan adanya asumsi-asumsi generalisme, statisme dan determinisme dari obyek-obyek empiris. Jadi terdapat proses simplifokasi yang ketat dan analogi-analogi yang mungkin tidak relevan, misalnya mendefinisikan manusia sebagai hewan dengan bermacam diferensia atau profiumnya (ciri pembeda dan cirri khusus). Contohnya, manusia sebagai hewan berakal, berbudaya, berpolitik dan lain-lain. Mengidentifikasikan manusia dengan hewan walaupun disertai penambahan predikabelitasnya adalah satu spekulasi yang besar. Dan karena menyangkut konsep normatif Islam, spekulasi tersebut mempertaruhkan luas lingkup dan kedalaman kebenaran fakta-fakta dan Kehendak tuhan.

Menuju Penerapan Konsep Normatif Islam

Sebelum sampai ke masalah penerapan, perlu diadakan beberapa penegasan dan pelurusan menyangkut hubungan antara Islam dan ilmu. Diantaranya yang terutama adalah pentingnya mendamaikan kembali avonturisme keislaman dengan ilmu yang pada perjalanan sejarah selama ini bergerak saling menjauhi, kemudian keduanya harus berupa kuat saling membantu dan memperlengkapi. Apabila itu tercapai, identitas Islam yang tepat tidak memisahkan yang fenomenal dari yang transendental akan kembali sempurna. Ini sejalan dengan pemikiran Whitehead, bahwa salah satu masalah yang penting dan perlu ditanggapi oleh generasi manusia abad ini adalah masalah hubungan antara sains dan agama. Dikutipkan darinya:

…bila kita memikirkan apa itu agama bagi umat manusia, dan apa itu sains, bukanlah suatu hal yang dibesar-besarkan untuk mengatakan bahwa jalannya sejarah masa depan akan tergantung dari keputusan generasi sekarang ini tentang bagaimana hubungan antara keduanya (J. Sudarminta, op.cit).

Keduanya, penting untuk memahami ilmu sebagai hasil pencerapan akal (intelek dan intuisi) yang bersifat relative dibandingkan dengan konsep normatif Islam sebagai wahyu (nilai-nilai profetis baik yang langsung maupun tidak langsung) yang bersifat mutlak. Pemahaman bersifat masa atau kontekstual dibandingkan dengan keabadian. Hal ini menyangkut kelebihan dan kekurangan ilmudalam menjalin kebenaran. Dalam sebuah sajaknya Maulana Iqbal mengatakan:

Beta mengeluh atas
ketamakanMU, O-Tuhan!
Kau simpan keseluruhan ruang dalam
DiriMu
Dan KAU batasi aku dalam tiga dimensi

(miss Luce-Claude Maitre, Pengantar ke Pemikiran Iqbal, 1989)

Ketiga, konsep-konsep normatif Islam harus dimengerti dalam konteksnya (pemahaman kontektual nash-nash atau hadist) dan dimengerti secara kaaffah dengan kontradiksi-kontradiksinya (kontradiksi harafiah).

Ini untuk menghindari dua kutub ekstrim penafsiran; pemahaman terlalu harafiah atau penta’wilan yang sewenang-wenang terhadap nash-nash quran atau Hadist dan mereduksi maksud-maksud kebenaran sehingga Islam disudutkan pola piker ekstrim.

Tafsiran dan Penjelasan Keilmuan

Seperti telah disebutkan, antara avonturisme keislaman dengan ilmu dalam kenyataan sosiologis bergerak saling menjauhi. Sebagian besar masyarakat kontemporer yang paling merosot dipandang dari sudut peeradaban, keilmuan sebagai kyultur dominannya, adalah masyarakat muslim.

Antara avonturisme keislaman dengan ilmu terdapat jurang sangat dalam yang memisahkan keduanya. Untuk menimbun jurang tersebut bukanlah pekerjaan kecil dan gampang. Diperlukan kreatifitas yang berwawasan dan bersungguh-sungguh, serta kesabaran bertahan dalam waktu yang panjang.
Warisan keilmuan sudah tidak terhitung lagi kuantitasnya dan ketinggian kualitasnya. Untuk menyeleksinya secara detil dan akurat, kemudian menjadikan tafsiran atau penjelasan konsep-konsep normatif Islam tidak dapat dipenuhi oleh tulisan ini. Ini karena disamping kompleksitas tema yang terkandung dalam keseluruhan konsep normatif Islam, juga pengetahuan penulis untuk melakukan usaha tersebut belum memadai. Hanya sebagai contoh sederhana disingkatkan disini telaah kuntowijoyo tentang “Paradigma Islam tentang Tranformasi Sosial”:

Paradigma penting yang berkaitan dengan transformasi sosial dapat ditemukan pada Durkheim, Weber dan marx. Persfektif Islam lebih dekat pada paradigma Durkheimian ketimbang pada dua lainnya. Konseptualisasi transformasi sosial adalah hubungan kausal, dimana stuktur sosial menentukan stuktur budaya menentukan stuktur sosial; dan selanjutnya: struktur sosial menentukan struktur teknik. Sentimen kolektif menentukan diferensiasi struktural, kemudian, diferensiasi struktural menentukan kepemimpinan. Kerangka ini digunakan untuk membawa Islam bahwa kepemimpinan atau kekuasaan dalam Islam ditentukan oleh umat (keluarga, jama’ah, atau komunitas); sedangkan, umat ditentukan oleh sistem nilai atau kesadaran normatif. Karena itulah, transformasi sosial harus diawali dengan rekayasa terhadap stuktur budaya, yang dalam Islam adalah Iman, atau sistem nilai tauhid. Dengan kata lain, perubahan keimanan masyarakat akan berpengaruh terhadap struktur umat; pada gilirannya, perubahan struktur umat akan berpengaruh terhadap kepemimpinan umat (Saiful Muzani, Islam dalam Hegemoni Teori Modernisasi, Prisma no 1 th xxii, 1993).

Sampai sejauh ini telah dikemukakan hubungan yang paling mungkin antara ilmu dan agama. Untuk mengaitkannya dengan diskursus mengenai transformasi sosial keagamaan, di bawah dibahas peran ulama sebagai agen perubahan sosial yang penting bagi masyarakat Indonesia.

Peran Sosial Politis Ulama Yang Telah Ada dan Yang Dicita-citakan

Ketika Khomeini mendapat ejekan sebagai seorang ‘Kyai Politis’, dia mengatakan: “Tidakkah Nabi SAW itu seorang tokoh politik? (Edard Mortimer, Islam dan kekuasaan, 1994) Ulama dalam pengertian umum orang saat ini telah cenderung menyempit sekedar sebagai orang-orang yang hanya mengurusi masalah ritualistic dan dogma-dogma agama saja. Diluar itu ulam tidak mempunyai kewajiban apa-apa. Oleh karena itu ejekan terhadap Khomeini seperti disebutkan diatas menjadi bisa dimaklumiadanya. Tetapi apakah kebenarannya seperti itu?

Ulama secara etimologis berarti orang-orang yang berilmu, orang-orang yang mempunyai pengetahuan lebih. Dalam muatan primordialnya ulama tidak dibedakan sebagai seorang yang mempunyai pengetahuan agama atau non agama seperti terjadi belakangan ini. Ulama adalah orang-orang yang mengerti kehidupan baik yang agamawi maupun duniawi, seperti dapat dilihat dalam kenyataan sejarah abad keemasan Islam, dimana tokoh-tokoh agama (pemikir-pemikr agama) sekaligus juga sebagai tokoh-tokoh dalam bidang-bidang yang dipandang non agama (duniawi). Diantara mereka ada yang merupakan ahli kimia, kedokteran, sosiologi, ilmuwan-ilmuwan eksakta dan lain-lain. Pengertian ulama tersebut relevan dengan apa yang disebutkan oleh M. Dawam Rahardjo dalam bukunya “intelektual, intelegensia, dan prilaku politik bangsa; risalah cendekiawan Muslim”, yaitu seperti disingkatkan dibawa ini:

Saya menafsirkan, bahwa “ulama” disini bukan hanya para ahli agama yang menguasai fiqih dan ilmu-ilmu keislaman tradisional, tetapi juga ahli ilmu pada umumnya,sepanjang mereka menjiwai ilmunya dengan pesan-pesan Al-Quran dan sunnah Rasul. Dengan kata lain, dalam derajat yang berbeda-beda, para cendekiawan muslim, setidak-tidaknya merupakan bagian dari ulama. Oleh sebab itu, para cendekiawan muslim dapat disebut juga sebagi pewaris nabi, sepanjang mereka itu berjuang untuk membawa risalah nabi (M. Dawam Rahardjo, jurnal islamika no 1,1993).

Perkembangan kemudian yang menyebabkan terjadinya isolasi peran ulama dalam bidang-bidang sosial politis merupakan perkembangan yang tidak disengaja dikarenakan berbagai hal. Untuk Indonesia fenomena tersebut, menurut beberapa sosiologi agama (misalnya: Clifford Geertz dan Nurcholis Madjid)adalah sebagai akibat dari kenyataan bahwa kedatangan Islam ke Indonesia diperkirakan terjadi pada saat kemunduran peran sosial politis Islam dalam kehidupan masyarakat dan kenegaraan, tekanan kaum kolonial dan kekuatan politik kelompok abangan setelah Indonesia mencapai kemerdekaan. Memang diawal-awal tahun kemerdekaan peran sosial politis Islam meningkat, tetapi untuk selanjutnya karena terjadi salah perhitungan dari perjuangan-perjuangan dan aktifis-aktifis sosial politis Islam sendiri dan banyaknya desakan serta kecurigaan dari pihak luar, terutama kaum abangan, peran tersebut merosot secara drastis. Pada puncaknya kemudian dialog yang tidak menguntungkan Islam terutama secara politis tersebut memunculkan strategi gerakan yang dikenal secara retoris “Islam Yes, Partai Islam no!”
Sekarang untuk lebih baiknya, para pejuang dan aktifis gerakan sosial Islam tidak perlu lagi menderita historisisme, berlarut-larut meratapi kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan dala sejarah. Toh pada kenyataannya, kegagalan-kegagalan masa lalu yang dialami ternyata selalu membawa suatu berkah tersembunyi (blessing in disguise).sedikitnya gerakan sosial Islam bisa lebih berhati-hati, efektif, efisien dan berwawasan luas. Kehidupan sejarah pertengahan orde baru di Indonesia mungkin lebih dapat menerima apa yang bisa disebut sebagai politik muslim, gerakan kulturalisme Islam; mengembangkan kualitas komunitas Islam, dari pada politik Islam, gerakan strukturalisme Islam; kekuatan partai politik Islam.

Dengan segala keterbatasan dan keleluasaan yang terdapat dalam strategi gerakan politik muslim, ulama harus mendapatkan banyak pelajaran untuk meningkatkan peran positifnya. Ini supaya tidak terjadi lagi salah perhitungan dan berpikir secara picik dalam bergerak. Hanya mengagungkan niat saja, tanpa memperhitungkan cara atau strategi tepat dalam mewujudkan niat baik tersebut adalah langkah mundur yang mungkin akan mengkambuhkan kembali ketakutan traumatis terhadap Islam.

Selama ini ulama telah cukup berhasil mempertahankan besarnya komunitas Muslim secara kuantitatif. Sekarang yang diperlukan adalah pendekatan baru, dimana komunitas Muslim kualitasnya meningkat, kaum santri diusahakan harus lebih besar jumlahnya dari pada kaum abangan (kalau kita mau memakai term yang diajukan Clifford Geerzt). Dan kesadaran ulama harus segera dikembalikan kepada kesadaran primordialnya, bahwa ia disamping sebagai tokoh dibidang agamawi juga harus menjadi tokoh gerakan sosial duniawi. Dalam buku “Islam dan Kekuasaan”, Edward Mortimer mengisyaratkan tentang ini dengan menghubungkannya dengan Qur’an surat Ali Imron ayat 110:

Tugas seorang muslim bukan semata-mata membantu orang yang membutuhkan bantuan, melainkan membangun masyarakat yang baik dimana hukum Tuhan diberlakukan. Al-Qur’an memerintahkan kepada mereka: ”Kalian adalah umat terbaik yang diturunkan dilingkungan manusia, yang mendorong kepada kebaikan dan melarang kejahatan, dan beriman kepada Allah.” Dengan mandat Ilahi semacam itu, tanggung jawab politik tidak mudah dihindari (Edward Mortimer, op. cit).

Untuk memenuhi harapan seperti itu disyaratkan adanya kepekaan sosial ulama terhadap kehidupan yang melingkupi dan mempengaruhi sekitar ummahnya. Tanpa kepekaan sosial itu bisa terjadi dua kemungkinan yang tidak diharapkan, yaitu:

Agama yang dikhutbahkan cenderung menjadi sesuatu yang tidak fungsional. Agama yang menjadi atribut kesalehan pribadi; dan tidak pernah menjadi kekuatan yang dapat memotivasi terjadinya perubahan sosial untuk memperbaiki situasi obyektif ummatnya. Dalam kaitan ini, agama lalu mengalami isolasi structural,yaitu nama lain dari sekularisasi.

Secara politis, karena kelas mustadh’afin dan golongan dhu’apa “ditinggalkan” oleh agama, bukan tidak mungkin mereka direkrut oleh gerakan-gerakan sosial lain yang mempunyai program yang jelas untuk memperbaiki nasibnya yang bisa jadi gerakan-gerakan sosial lain itu merupakan kekuatan-kekuatan anti agama (Kuntowijoyo, op. cit).

Transformasi Sosial Yang Islami

Inilah mu’jizat Islam, ia membinasakan berhala, dan inilah tragisnya orang-orang muslim, mereka membuat agamanya menjadi berhala. Mereka yang terbuka bagi dunia modern dirugikan imannya, sedang mereka yang terbelenggu pada formalisme jumud membanggakan dirinya sebagai muslim sejati (Edward Mortimer,op.cit).

Kutipan di atas adalah komentar ayyub Khan atas masyarakat Muslim Pakistan yang kolot, yang kalau diamati secara seksama mungkin kenyataannya bisa jadi lebih meluas; lukisan diatas mengenai keseluruhan komunitas muslim yang ada didunia. Mereka (ic.ulama) yang terbuka bagi dunia modern seringkali dicurigai, seolah-olah dunia modern adalah tanah larangan yang samasekali wajib dihindari. Transformasi sosial menuju kemodernan pada akhirnya pun tidak lepas dari kecurigaan-kecurigaan sebagian besar orang muslim. Padahal terlepas dari keyakinan seperti itu mereka mau-tidak mau harus ikut terlibat pula dalam proses transformasi sosial tersebut, karena merujuk pada pendapat Nurcholis Madjid, kemodernan atau madernitas disamping merupakan hal yang tak terlelakan juga merupakan pula keharusan sejarah (bistorical necessity). Apakah modernitas sebuah fitrah? Banyak hal yang bisa membenarkannya, terutama kalau kita melihat kembali sejarah ilmu pengetahuan; modernitas adalah salah satu item proses pewarisan dan pengembangan lebih lanjut ilmu pengetahuan, yang secara garis besar terangkai dari mulai jaman Yunani ke Islam kemudian Barat. Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat diambil satu silogisme, bahwa kalau Islam kontemporer menghindari modernitas, ia telah berjalan di luar fitrah; ia meninggalkan keharusan sejarah. Dan konsekuensi terburuknya bisa dilihat abad-abad terakhir ini, Islam menjadi ideology dan ‘way of life’ marjinal, bahkan hamper tersingkirkan diantara dua posisi ideologis ekstrem kapitalisme dan sosialisme. Untuk memperbaiki dan mengembalikan semangat modernitasnya, Islam perlu menghayati kembali kefitrahannya, dimana inklusifitas terhadap sejarah adalah syarat pokoknya.

Penutup

Mempertimbangkan masalah transformasi sosial di Indonesia dengan persfektif khasanah pemikiran keagamaan, menghadapkan berbagai potensi dan kecenderungan baik yang positif maupun negatif. Hal ini wajar karena setiap perubahan atau pemunculan fenomena baru atau tentu menghadirkan pula harapan-harapan dan tantangan-tantangan baru.menggejalanya perkumpulan cendekiawan keagamaan misalnya. Sementara masyarakat memandang sebagai hal yang positif sehingga kontruktif. Pendapat lain memandangnya sebagai hal yang negatif sehingga destruktif terhadap perkembangan bangsa Indonesia. Mana yang dapat dinilai secara pasti belum ada contoh-contoh aktualnya.

Tulisan ini sebagai pengantar bagi dialog yang masih terbentang jauh, tidak berpretensi memberikan sebuah kajian yang mencukupi perihal hubungan dialekstis antara ilmu pengetahuan (sains) dan khasanah keagamaan, dalam hal ini adalah konsep normatif keagamaan dan peran ulama sebagai agen trasformasi sosial yang menjembatani dialektika yang terjadi antara ilmu dan agama dengan kehidupan ummat. Dengan mengemukakan potensi-potensi positif dari semua aspek yang sengaja dituangkan dalam tulisan ini bertujuan khusus membangkitkan kembali agama dalam proses transformasi sosial, sehingga agama seperti dijelaskan oleh Roger Geraudy tidak lagi menjadi apologi, menjadi ideology justifikasi, tetapi sebagai metode pengambilan jarak (detachment) secara kritis dari yang sudah baku, suatu instrument untuk mencari dan membuat kemungkinan-kemungkinan baru (Ashgar Ali engineer, Islam dan pembebasan, 1993).

Pengenalan terhadap ilmu, agama dan peran intelektualnya pada gilirannya tentu akan sangat membantu pula perjuangan secara serius problem bipolaritas spiritual-material kehidupan manusia kontemporer dengan menyusun kembali tatanan sosial menjadi tatanan yang tidak eksplooitatif, adil dan egaliter. Suatu kehidupan yang dimudahkan oleh bantuan sains dan teknologi, dan diarahkan oleh kebenaran agama.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.