Apollo 17: Denny Indrayana

Catatan di bawah adalah semacam curriculum vitae yang dipersahabatkan kepada Denny Indrayana, Ph.D. Tulisan ini telah dimuat dengan judul 'Catatan Sahabat' di buku: (i) UUD 1945: Mitos & Pembongkaran, Mizan, 2007; (ii) Negara Antara Ada & Tiada: Reformasi Hukum Ketatanegaraan, Penerbit Kompas, 2008; dan (iii) Negeri Para Mafioso: Hukum di Sarang Koruptor, Penerbit Kompas, 2008.

Di Kotabaru, Pulau Laut, sebuah pulau kecil sebelah tenggara Kalimantan Selatan, Senin 11 Desember 1972, saat Apollo 17 mendarat di bulan, lahirlah Denny Indrayana. Masa kecilnya dihabiskan di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan sampai menamatkan sekolah menengah atas. Tahun 1991 masuk Fakultas Hukum UGM, dan meraih gelar sarjananya di tahun 1995. Empat tahun itu bukanlah waktu sekedar tercatat sebagai mahasiswa, rajin kuliah dan berindeks prestasi bagus, melainkan juga ruang aktivitas yang padat. Terbukti Denny menjabat Ketua Bidang Penalaran Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat fakultas dan beberapa kegiatan tingkat universitas. Di tahun terakhir kelulusannya, ketika sibuk menulis skripsi, Denny menyumbangkan pemikiran dan tenaganya menjadi Ketua Panitia sebuah seminar nasional sangat berani waktu itu, karena mengumpulkan para kritikus berat orde baru untuk bicara tentang: Suksesi & Lembaga Kepresidenan. Untung pada saat itu, belum ada yang mempunyai ide untuk menculik para aktivis. Denny dan kawan-kawan hanya kerepotan memenuhi panggilan korps ‘keamanan dan ketertiban’ untuk investigasi.

Tahun 1995, ketika ayahnya menawari sebuah rumah, Denny lebih memilih membelanjakan uangnya demi menempuh master hukum di School of Law, University of Minnesota, Amerika Serikat dan lulus di tahun 1997. Tiga tahun sampai tahun 2000 setelah mendapatkan gelar LL.M. (Master Degree in Law), Denny menjadi Konsultan Hukum di Jakarta. Namun dalam praktek hukum di ibukota, ia menemukan berbagai kegelisahan, yang menyeretnya kemudian ke kota yang sangat dicintainya: Yogyakarta. Lagi-lagi ia tidak menjadi penyepi, tetapi menggalang kekuatan menjadi advokat yang 'lain'. Pernah menjebak indikasi KKN penegak hukum di sana, aktif mengajar di Universitas Muhammadiyyah Yogyakarta, dan membentuk LSM, yakni Lembaga Bina Kesadaran Hukum Indonesia (LBKHI), serta Indonesian Court Monitoring (ICM) yang bergerak sebagai pemantau peradilan dan upaya perang terhadap praktek mafia peradilan. Serta, akhirnya menjadi dosen Hukum Tata Negara di Fakultas Hukum UGM sejak 2001.

Gelar Ph.D dari Faculty of Law, University of Melbourne diraihnya di tahun 2005 dengan disertasi "Indonesian Constitutional Reform 1999-2002: An Evaluation of Constitution-Making in Transition". Inilah indikasi bahwa Denny seorang tersangka Oedipus Complex, orang muda yang mencintai hal-hal 'tua'. Betapa tidak, selain memilih perempuan luar biasa Ida Rosyidah menjadi istrinya, ia menggemari hal-hal yang bagi sebagian orang adalah contoh 'ketuaan': isu korupsi, konstitusi, peradilan dan mafianya, serta menjadi doktor kinyis-kinyis. Paling ringan, ia pun mengidap penyakit orang tua: pelupa dan pengantuk. Maka Tuhan menurunkan bakat menulis sangat produktif, agar Denny tidak total pelupa di tengah Indonesia, negara yang juga sangat pelupa itu. Maka Tuhan tidak jarang memberi rasa kantuk ketika ia menonton di bioskop, agar Denny tidak total tegang dengan kritiknya, dan asyik tertidur saat sebuah film mendekati adegan paling menegangkan. Akhirnya, yang paling serius dari ketuaannya, tampak ketika ia 'menjewer' gagasan, perilaku, corps de ethic buruk dari jajaran negara dan pemerintahan melalui tulisan serta aktivismenya.

Namun, itu semua tak seromantik karakter lainnya dari pemikir-aktivis atau aktivis-pemikir yang bernama Denny Indrayana. Perpaduan inilah yang bahkan mungkin ia sendiri pun tak tahu, menjadi rahasia integritasnya: tetap belajar, jujur, berani, dan murah hati. Dan bila menengok kartu nama yang sudah dikoleksinya sejak mahasiswa, Denny tak lain adalah orang yang sangat luas pergaulannya. Akhirnya, tidak mengherankan kalau dirinya seperti dipersiapkan sebagai pintu gerbang khasanah antikorupsi dan pencerahan konstitusi yang segar namun kerap mengagetkan. Ia bibliografi yang selalu merasa setengah kosong, namun Indonesia yang optimis bisa mendapatkannya sebagai si setengah penuh.

Bilamana ada hubungan energi antara hari lahir Denny Indrayana dengan hari mendaratnya Apollo 17 di bulan, sebagaimana disebutkan di muka, maka itu soal gravitasi. Denny di antara rekan-rekannya seaktivitas, seperti orang yang paling telat dalam ‘kancah berpikir kritis’ dan apalagi menulis. Kegemarannya hanya menjadi ketua panitia, orang yang paling depan dalam hal teknis. Namun ketika kesadaran kritis mencapai batas atmosfirnya, Denny melesat seperti pesawat luar angkasa yang telah melepaskan tangki bahan bakarnya yang pertama. Darinya muncul berbagai pemikiran kontroversial namun relevan dengan situasi masa kini dan masa depan Indonesia. Tidak ketinggalan, ia termasuk jajaran doktor termuda. Tulisannya yang telah mencapai jumlah 300 lebih senantiasa ikut menyengat ruang baca kita sehari-hari.

Banyak pihak yang meminta Denny Indrayana untuk sopan, mengurangi kekurangajarannya dan lebih lunak ketika membombardir berbagai situasi dan institusi. Tapi ia sudah mantap di luar orbit. Ia dengan sadar melatih keterampilan untuk tak mudah disedot gravitasi dinamika budaya, hukum dan politik Indonesia, yang sering menjinakkan terutama atas dasar etika para intelektualnya menjadi intelektual sirkus. Denny tidak gentar pada pecut, tidak tunduk pada kursi. Ia bisa dijadikan contoh: seekor singa yang bukan tontonan.

Kini agenda hariannya yang paling rutin adalah mengajar Hukum Tata Negara, tetap menulis dan menjadi narasumber berbagai media, berbicara di berbagai forum lokal, nasional dan internasional, serta masih memimpin Pusat Kajian Anti (PuKAT) Korupsi Fakultas Hukum UGM.***


Catatan Sahabat,
Peri Umar Farouk

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.