Am I Too Lost To Be Saved?

Am I too lost to be saved?
Am I too lost?

Tourniquet, Evanescence


Sebuah lagu ghotic cukup keras dari Evanescence sangat mengasyikkan saya. Seperti sebuah momen tremendum fascinosum, karena dibalik kegarangan musiknya mengandung kalimat kesangsian sepahit sebagaimana saya kutip sebagai quote di atas:

Apakah aku terlalu sesat untuk diselamatkan?
Apakah aku terlalu sesat?

Tuhan Maha Pemurah. Sering kita lupa demikian. Tuhan Maha Pemurah, kalau kita mau mem”baca”. Kitab Pencerah menukilkannya di sebuah ayat: Iqra, wa rabbukal akram. Tuhan sebagai Cahaya di atas Cahaya sebagaimana diakuinya sendiri dalam an-Nuur 35, adalah bagian dari kita yang mustahil sama sekali hilang atau pun musnah. Setiap nyawa diciptakan Allah dengan unsur Cahaya di dalamnya. Ruh kita atau nyawa kita adalah senyawa yang di dalamnya kekal unsur Tuhan itu. Kelompok musik sufistik Debu melantunkannya sebagai sebuah mazmur, sebuah lagu perayaan:

Nyawa dan cinta menjelma; Yakni keduaduanya
Di zaman dulu bersama; Diciptakan oleh Allah
Dengan cara sangat khusus; Roh dan Cinta dicampurkan
Dan Cinta yang memang halus; Menghilang dalam campuran

Jadi mengapa kita mesti berputus asa dari kasih Allah? Vikas Malkani mengisahkan ujaran Swami Rama, guru spiritualnya demikian:

“Bayangkan sebuah ruang yang telah menjadi gelap selama sepuluh tahun, sangat gelap. Tidak ada sedikit pun cahaya yang masuk. Selama sepuluh tahun, ruangan itu berada dalam keadaan seperti itu, tahun demi tahun. Akan tetapi, berapa waktu yang diperlukan untuk membuat ruangan itu terang? Hanya sekejap! Masuk dan nyalakan korek api, maka akan terdapat cahaya. Kegelapan langsung lenyap. Jangan khawatir, seperti itulah hidup!”

Sekali lagi: jadi, mengapa mesti kita berputus asa dari Rahmat Allah?


Condet, 3 Mei 2007
Peri Umar Farouk

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.