Airmata Ayah

Bagi ayah, kebahagiaan terbesar adalah bisa menangis. Ayah menggebu-gebu sekali untuk dapat menitikkan air mata, karena telah lama air mata ayah hilang entah ke mana.

“Ayah masih bisa merasakan bagaimana nikmatnya tangisan ayah yang terakhir,” kata ayah di meja makan malam tadi. “Sepertinya saat itu ayah telah mendapatkan firasat bahwa ayah akan kehilangan air mata.”

Mata ayah menerawang jauh. Bukan ke luar dirinya, namun lebih tepat ke kedalaman dirinya. Mata ayah seperti menusuk hatinya sendiri.

“Kalau ayah bandingkan air mata ayah saat itu, mungkin sama seperti kebenaran air bah yang memperlayarkan Perahu Nuh, atau mungkin persis keagungan air Laut Merah yang membukakan jalan bagi Musa dan pada akhirnya menenggelamkan kemurkaan Fir’aun.”

Mendengar kata-kata ayah, ibu hanya bisa menunduk. Ia mengurungkan niatnya untuk menghabiskan kue puddingnya. Bibirnya gemetar, mungkin oleh rasa mempersalahkan diri karena kehabisan cara untuk membuat ayah bisa memenuhi obsesinya. Memang semenjak ayah merasa bahwa ia tidak lagi bisa menangis, ibu selalu mencari kemungkinan-kemungkinan mengobati kelainan ayah tersebut. Dan dengan setia ibu menemani ayah untuk mencoba berbagai macam terapi. Sayang, semuanya belum membuahkan hasil seperti yang ayah harapkan.

Saya sendiri pun dengan berbagai upaya mencoba menawarkan kiat-kiat untuk dilakukan ayah agar bisa menangis. Dari yang biasa-biasa saja sampai ke yang menjurus gila-gilaan. Saya pernah mengkliping tulisan-tulisan media massa tentang kejahatan yang bagi kebanyakan orang merupakan perbuatan di luar kemanusiaan. Pembunuhan sadis, penganiayaan, perkosaan, lengkap dengan kisah-kisah mengharukan dari keluarga dan lingkungan dekat korban. Kiat-kiat tersebut saya bagikan pada ayah dengan asumsi bahwa mengajari ayah tentang mengapa ayah harus menangis akan cepat membuat ayah bisa menangis, daripada mengajarkan bagaimana ayah harus menangis.

“Ayah telah membaca kasus Marsinah?” tanya saya suatu waktu.

“Yaa,” jawab ayah datar.

“Coba, bagaimana tidak tertusuknya kemanusiaan kita membaca kasus itu. Buruh kecil, yang mencoba berjuang untuk mendapatkan hak-hak kecilnya, namun mati dibunuh oleh sesuatu yang entah apa namanya. Bahkan sampai saat ini pun belum ketahuan siapa yang membunuhnya.” lanjut saya.

“Yaa,” ayah masih setia dengan yaa-nya.

“Apa ayah tidak menangis? Atau sedikitnya terharu membaca hal itu?” tak sabar saya memberanikan diri bertanya tentang itu.

“Ayah ingin menangis,” kata ayah lirih.

“Apakah ayah juga telah membaca tentang perampokan terhadap sebuah keluarga, pembunuhan terhadap sebuah keluarga yang disertai dengan penganiayaan dan perkosaan? Bahkan sampai mengambil nyawa bocah-bocah yang tak berdosa?”

“Yaa,”

“Apa ayah juga tidak tersentuh, kemudian menangis melihat hal-hal semacam itu?” saya semakin tidak sabar menghadapi kelainan ayah.

“Ayah ingin menangis, tapi…” ayah menutup kata tapinya dengan menggeleng-gelengkan kepala.

Saya juga menganjurkan ayah untuk membaca buku-buku,menonton film, drama-drama, teater, bahkan semua hal yang mengandung kesedihan, keharuan. Saya pernah mengajaknya melihat-lihat perkampungan kumuh di pinggir-pinggir kali. Mengajaknya berkeliling di panti-panti asuhan. Tapi sampai saat ini belum tampak hasil yang memuaskan. Semuanya tampak seperti lewat begitu saja, bahkan seperti tidak pernah terjadi dalam kehidupan ayah. Semua kenyataan beku, bisu di hadapan ayah.

Atas saran saya juga, ayah sendiri telah mengundurkan diri dari jabatannya yang cukup tinggi di jajaran birokrasi. Walaupun gagasan itu pada awalnya mendapatkan tentangan dari keluarga dan kolega dekat ayah, namun ayah tanpa ragu berhasil keluar dari pengaruh tersebut. Sebagai alasan mengapa saya menyarankan hal itu adalah kekhawatiran saya, bahwa jabatan itulah sebetulnya yang membuat ayah menjadi seperti tidak berperasaan. Siapa tahu? Ayah mungkin bukan orang yang kuat yang pas menduduki jabatan tersebut. Kemudian saya anjurkan ayah mencoba mengemis atau jadi tukang sampah di jalanan, siapa tahu kekerasan jalanan dapat membangkitkan air mata ayah dari sumbernya yang tersembunyi. Namun gagasan itu kembali memunculkan tentangan dari keluarga. Bahkan lebih hebat dari yang sudah-sudah. Kakak saya yang perempuan sampai mengutuk dan menyumpah-nyumpah saya sebagai anak durhaka.

“Lagi, mana ada pengemis yang botak dan buncit kayak ayah?” kakak saya menguatkan sumpah serapahnya. “Kamu ini mau menolong ayah, apa menjerumuskan?”

***

“Sekarang ayah ingin menyampaikan hal yang lain kepada kalian,” ayah menyimpan lap tangan di sebelah kiri piringnya, “Kini ayah tidak bisa tertawa lagi.”

Kami semua, anak-anak ayah, juga ibu menjadi saling berpandangan. Entah harus bagaimana menghadapi kenyataan seperti yang ayah katakan. Di antara semuanya, mungkin saya yang merasa paling terpukul. Karena seminggu sebelum ini, saya pernah menganjurkan ayah untuk tertawa terus sepuas-puasnya, sampai air matanya bisa keluar. Ayah sendiri menuruti apa yang saya anjurkan, hari-harinya ia habiskan untuk tertawa-tawa di depan buku-buku dan film-film humor. Kupingnya lengket di tape recorder, mendengarkan banyolan dan lagu-lagu lawak. Tapi belum sempat ayah mengeluarkan air mata dari tertawanya, kini ia harus kehilangan semua tawanya.

Melihat kebingungan kami, ayah tampak serba salah. Setelah mengucapkan selamat malam, ia pun meninggalkan kami di meja makan. Oh, apakah ayah telah menjadi sufi tanpa ia sendiripun tahu, batin saya. Atau hati ayah kosong dari darah dan telah mengempes di dalam tubuhnya. Atau apakah ayah hanya menambah-nambah sandiwara yang ia lakonkan untuk keluarganya. Soalnya saya pernah beberapa kali bermimpi memergoki ayah sedang menangis karena ia menyadari ketegaannya membohongi istri, anak dan cucu-cucunya dengan mengatakan bahwa ia tidak bisa menangis, tetapi sejenak kemudian tertawa-tawa karena sukses berbohong di depan istri, anak dan cucu-cucunya.

Dengan rasa penasaran saya pun meninggalkan ruang makan menuju kamar ayah. Di langkah-langkah saya yang sengaja dilambatkan, terbayang kemungkinan buruk ayah di masa depan. Setelah kehilangan air mata, tawa, akankah ayah kehilangan heran, rasa terkejut dan rasa adanya. Kemudian kehilangan dimensi-dimensi dan ruang waktu kemanusiaannya.

Lewat lubang kunci saya melihat ayah mencari-cari sesuatu di atas buffet. Kemudian saya lihat Al-Quran di genggamannya, dilihat-lihatnya sejenak, lalu disimpannya kembali di atas buffet. Ayah berjalan menuju pintu.

“Apakah ayah tidak tergetar untuk membacanya?” tanya saya sewaktu ayah muncul di muka pintu.

“Ayah sudah tak punya getar lagi,” jawab ayah.

***

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.