9 Perintis Kebangkitan Islam

Resensi Peri Umar Farouk atas buku “Para Perintis Zaman Baru Islam”, Ali Rahnema (Editor), Mizan, Bandung, 270 halaman

Sebuah buku berjudul “Pioneers of Islamic Revival�?, kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku tersebut yang disunting Ali Rahnema, Lektor-Kepala Ekonomi di American University of Paris, membicarakan sembilan tokoh perintis kebangkitan Islam modern. Kesembilann tokoh tersebut adalah Sayyid Jamaluddin ‘Al-Afghani’, Muihammad Abduh, Ayatullah Khomeini, Maududi, Hassan Al-Banna, Sayyid Quthb, Musa Al-Shadr, Ali Syari’ati dan Muhammad Baqir Ash-Shadr. Tinjauan utama buku ini, berkisar antara latar belakang kehidupan serta pendidikan kesembilan tokoh tersebut, karir, pemikiran (terutama visi politik), karya tulis, aktivitas, dan pengaruhnya terhadap pemikiran dan pergerakan Islam. Sebagai benang merah yang ditegaskan Ali Rahnema, untuk menghimpun tokoh-tokoh tersebut dalam satu kajian adalah terdapatnya persoalan-persoalan besar yang sama yang dihadapi para tokoh di masing-masing konteks ruang waktunya, yang dirumuskannya sebagai empat sebab utama kemunduran masyarakat Islam.

Keempat sebab utama kemunduran masyarakat Islam diringkaskan Ali Rahnema dalam Kata Pengantarnya. Pertama, erosi nilai-nilai Islam dan ketidakpedulian pemerintah untuk menerapkan peraturan sosio-ekonomi dan etika Islam. Kedua, sikap diam dan kerjasama lembaga ulama dan pemerintah yang pada hakekatnya tidak islami. Ketiga, korupsi dan kezaliman kelas penguasa dan keluarganya. Dan terakhir, kerjasama kelas penguasa dengan, dan ketergantungannya pada, kekuatan-kekuatan imperialis yang tidak Islami.

Demi penggambaran yang lebih jelas, keempat sebab utama kemunduran masyarakat Islam itu dapat ditemui, misalnya dalam pemerintahan rezim Syah Reza Pahlevi. Pada saat itu, Iran yang terkenal dengan sebutan Kerajaan Merak, karena kemewahannya, dengan gencar menggaungkan proyek-proyek pembaratannya. Untuk mencapai pembaharuan sekular tersebut, bahkan Rejim Syah sampai juga melakukan praktek-praktek politik yang tidak sehat. Misalnya berapa kali menjatuhkan eksekusi mati terhadap ulama Iran dan bersamaan dengan itu menempatkan orang-orang kepercayaannya sebagai pemegang otoritas keagamaan. Ayatullah Khomeini, sebagai salah satu tokoh ulama yang kritis pada waktu itu, sampai pecahnya Revolusi Islam Iran berada di luar negeri dalam status pembuangan. Tradisi masyarakat yang berbasis nilai dan kategori-kategori keagamaan dijustifikasi sabagai sesuatu yang kuno dan patut ditinggalkan dalam rangka berbangsa dan bernegara. Lembaga-lembaga historis agama didepolitisasi serta dikontrol sedemikian ketat. Korupsi yang dilakukan kelas penguasa merajalela sampai ke tingkat birokrasi yang paling bawah, sehingga memperlihatkan kehidupan yang sangat kontras antara kelas penguasa yang bisa hidup secara bermewah-mewah dengan kehidupan rakyat yang melarat. Dan yang paling membuat kemarahan rakyat memuncak, adalah ketika parlemen mengesahkan rancangan undang-undang yang memberikan hak-hak ekstra-teritorial kepada personel militer Amerika Serikat.

+++

Keempat sebab utama kemunduran masyarakat Islam yang telah disebutkan di atas, yang pada akhirnya memunculkan fenomena responsi keislaman dalam wacana zaman baru (modern), memang tidak dapat dilepaskan dari tiga akar permasalahan yang merupakan pemicunya. Pertama, dari pemberian identitas bagi perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Di penghujung abad kesembilan belas sampai paruh pertama abad duapuluh, bangsa-bangsa terjajah, dengan segala warisannya mulai menggeliat menghadapi kolonialisme dan imperialisme yang telah beratus tahun membelenggunya. Dasar pemikiran, ideologi dan falsafah pergerakan yang mereka acu dan perjuangkan masing-masing berbeda, walaupun mempunyai tujuan yang sama, yakni mengusir penjajah serta membangun masyarakat dan negara atas kekuatan sendiri. Secara garis besar perjuangan tersebut diinspirasi oleh dua ideal, yakni ideal sekuler dan ideal agama. Menonjol dalam wacana perjuangan menentang penjajahan tersebut ideal sekuler semacam nasionalisme. Sebagian lagi ideal sekuler kiri semacam sosialisme dan komunisme. Dan tidak kalah bergemanya, mereka-mereka yang berjuang atas ideal-ideal keagamaan (nilai-nilai agama). Di masyarakat, dimana mayoritas penduduknya beragama Islam misalnya, nilai-nilai Islam diolah dan diformulasi untuk membangun ghirah dan aktivisme perlawanan penindasan penjajahan.

Kedua, dari pencarian alternatif sistem nilai dan ideologi bagi perkembangan kehidupan sosial yang lebih adil dan egaliter di masa yang akan datang. Menggejalanya arogansi mainstream ideologi, yang bermuara pada kapitalisme dan sosialisme, pada bangsa-bangsa yang baru merdeka membuahkan ketidakpuasan baru, dimana keadilan sosial yang diharapkan terwujud pasca pemerintahan colonial, relatif tak tercapai. Ideologi kapitalistik dan sosialistik dalam praxis sosialnya ternyata memunculkan penindasan baru, sehingga tidak saja problem kebebasan berbangsa (dan bernegara) yang mengguncang bangsa baru merdeka tersebut, melainkan ditambah problem eksistensi yang dikenal sebagai alienasi. Dalam potensi inilah ideal-ideal alternative muncul dari tokoh-tokoh kebangkitan agama.

Dan ketiga, dari pergulatan politis kebijakan-kebijakan internal negara-bangsa (nation state) baru beserta dialektikanya dengan modernitas. Pada zaman baru ini, setidak-tidaknya di dunia Barat, terdapat sebuah kenyataan yang menggiurkan sebagian pemegang kekuasaan politik di negara-negara baru merdeka. Model pembangunan nasional (developmentalisme) dengan motor yang bersifat birokrasi rasional, yang dijiwai oleh semangat pragmatisme, memberi konsekuensi terpinggirkannya tradisi dan pluralitas. Hegemoni budaya barat inilah yang pada akhirnya memunculkan respon-respon local genius untuk memberi harapan baru (nyawa baru) bagi tradisi, yang di kebanyakan masyarakat dunia ketiga relatif erat dengan kategori-kategori agama.

Ketiga hal tersebut di atas, dalam buku yang terjemahan Indonesianya diberi judul “Para Perintis Zaman Baru Islam�? itu, memang tidak dituliskan secara eksplisit. Namun dengan melihat karya-karya monumental kesembilan tokoh perintis zaman baru Islam, yang garis besarnya disinggung dalam buku itu, dapat dilihat intensifnya pemikiran para perintis dengan ketiga aspek pemicu response Islam tersebut. Elaborasi yang paling dominan mengenai hal ini bisa dilihat dalam tema-tema transformasi sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan dari karya-karya para perintis tersebut. Dalam konsep “Wilayat-i Faqih�?-nya, Ayatullah Khomeini melegitimasi fungsi kepemimpinan Islam historis (ulama/fuqaha) dalam kekuasaan (pengambilan keputusan) negara bangsa modern yang berbentuk republik. Jamaluddin ‘Al-Afghani’ dan muridnya, Muhammad Abduh kental dengan ide-ide modernisasi Islam, yang seperti teori sosial Weberian mencari etika puritan keislaman yang erat kaitannya dengan rasionalisasi dan modernisasi demi kemajuan dan pembangunan masyarakat Islam. Hassan Al-Banna serta Sayyid Quthb, yang merupakan tokoh-tokoh gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, gigih dengan penolakannya terhadap ide-ide sekuler materialisme-rasionalisme, yang disebutnya sebagai bentuk jahiliyah modern. Kemudian Muhammad Baqir Ash-Shadr, dalam bukunya “Iqtishaduna" dan juga “Falsafatuna" (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama), membabat habis sistem ekonomi kapitalistik dan materialisme dialektika historis Karl Marx.

+++

Interpretasi Islam yang disumbangkan para tokoh yang ditampilkan dalam buku “Para Perintis Zaman Baru Islam" ini, memang berbeda-beda. Bisa dilihat dari hasil pemikiran para tokoh tersebut, bahwa kesempurnaan yang dituntut dan diperjuangkan atas manusia, masyarakat dan Negara dimana nilai-nilai Islam dapat dengan pesat diperkembangkan, diambil dari dan diarahkan oleh masing-masing tokoh perintis pada perspektif yang berbeda. Menurut buku ini, disebutkan bahwa Khomeini menghendaki kesempurnaan yang mutlak, yang pekat dengan derajat sufistik. Sedangkan yang lain ada yang bersifat salafiyah, seperti para tokoh Ikhwanul Muslimin, dan yang lainnya lagi bersifat pragmatis.

Pada tingkatan tertentu, buku “Para Perintis Zaman Baru Islam" ini memberikan hal-hal penting yang patut dijadikan pertimbangan kita, sebagai bangsa yang sama-sama baru beberapa dekade lepas dari penjajahan, hidup dan berjuang. Sekelumit biografi kehidupan, beserta latar belakang pemikiran dan keilmuan dari para tokoh perintis tersebut dapat kita telaah dari buku ini. Lebih berguna lagi dalam upaya konsepsi dan teoritifikasi pemikiran Islam dan kebijakan sosial di negara kita, karena buku ini pun menggambarkan pada kita konteks sosial dari pemikiran serta karya-karya tokoh kebangkitan Islam, dengan idealitas, keberhasilan dan kegagalan-kegagalannya. Sayangnya, tak satupun tokoh dan pemikiran Islam yang berasal dari dan dalam konteks Indonesia, mendapatkan kehormatan untuk disertakan, atau sekedar disebut di dalamnya.

+++

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.